Ancaman Baru di Laut Merah: Rudal Supersonic Rusia untuk Houthi
Nabil
Rabu, 25 September 2024 - 07:23 WIB
Ancaman Baru di Laut Merah: Rudal Supersonic Rusia untuk Houthi
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Iran telah menjadi fasilitator dalam pembicaraan rahasia antara Rusia dan kelompok militan Houthi di Yaman. Tujuannya? Mengirimkan rudal anti-kapal canggih ke tangan Houthi. Informasi ini diungkap oleh tiga sumber dari Barat dan regional, menunjukkan semakin eratnya hubungan Tehran dengan Moskow.
Tujuh sumber menyatakan bahwa Rusia masih belum memutuskan untuk mengirimkan rudal Yakhont - juga dikenal sebagai P-800 Oniks. Para ahli mengatakan rudal ini akan memungkinkan kelompok militan untuk menyerang kapal komersial di Laut Merah dengan lebih akurat dan meningkatkan ancaman terhadap kapal perang AS dan Eropa yang melindungi mereka.
Sejak November lalu, Houthi telah melancarkan serangan drone dan rudal berulang kali ke kapal-kapal di jalur pelayaran penting Laut Merah. Mereka melakukan ini untuk menunjukkan dukungan kepada Palestina dalam perang Gaza melawan Israel. Akibatnya, setidaknya dua kapal tenggelam dan satu kapal disita, mengganggu perdagangan maritim global. Perusahaan pelayaran terpaksa mengalihkan kargo mereka dan biaya asuransi untuk kapal-kapal yang melintasi Laut Merah pun melonjak.
Amerika Serikat dan Inggris telah menyerang posisi Houthi sebagai balasan, namun belum berhasil menghentikan serangan kelompok tersebut. Dua pejabat regional yang mengetahui pembicaraan ini mengatakan bahwa Houthi dan Rusia bertemu di Tehran setidaknya dua kali tahun ini. Pembicaraan untuk menyediakan puluhan rudal dengan jangkauan sekitar 300 km ini masih berlangsung, dengan pertemuan lanjutan di Tehran yang diharapkan dalam beberapa minggu ke depan.
Sebelumnya, Rusia pernah memasok rudal Yakhont ke Hizbullah yang didukung Iran. Salah satu sumber mengatakan bahwa pembicaraan ini dimulai di bawah pemerintahan Presiden Iran Ebrahim Raisi, yang meninggal dalam kecelakaan helikopter pada Mei lalu.
"Rusia sedang bernegosiasi dengan Houthi untuk mentransfer rudal anti-kapal supersonik Yakhont," kata sumber intelijen Barat. "Iran memfasilitasi pembicaraan ini tetapi tidak ingin meninggalkan jejak."
Baik misi PBB Iran maupun Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi permintaan komentar. "Kami tidak mengetahui apa yang Anda sebutkan," kata Mohamed Abdel-Salam, juru bicara resmi Houthi Yaman.
Tujuh sumber menyatakan bahwa Rusia masih belum memutuskan untuk mengirimkan rudal Yakhont - juga dikenal sebagai P-800 Oniks. Para ahli mengatakan rudal ini akan memungkinkan kelompok militan untuk menyerang kapal komersial di Laut Merah dengan lebih akurat dan meningkatkan ancaman terhadap kapal perang AS dan Eropa yang melindungi mereka.
Sejak November lalu, Houthi telah melancarkan serangan drone dan rudal berulang kali ke kapal-kapal di jalur pelayaran penting Laut Merah. Mereka melakukan ini untuk menunjukkan dukungan kepada Palestina dalam perang Gaza melawan Israel. Akibatnya, setidaknya dua kapal tenggelam dan satu kapal disita, mengganggu perdagangan maritim global. Perusahaan pelayaran terpaksa mengalihkan kargo mereka dan biaya asuransi untuk kapal-kapal yang melintasi Laut Merah pun melonjak.
Amerika Serikat dan Inggris telah menyerang posisi Houthi sebagai balasan, namun belum berhasil menghentikan serangan kelompok tersebut. Dua pejabat regional yang mengetahui pembicaraan ini mengatakan bahwa Houthi dan Rusia bertemu di Tehran setidaknya dua kali tahun ini. Pembicaraan untuk menyediakan puluhan rudal dengan jangkauan sekitar 300 km ini masih berlangsung, dengan pertemuan lanjutan di Tehran yang diharapkan dalam beberapa minggu ke depan.
Sebelumnya, Rusia pernah memasok rudal Yakhont ke Hizbullah yang didukung Iran. Salah satu sumber mengatakan bahwa pembicaraan ini dimulai di bawah pemerintahan Presiden Iran Ebrahim Raisi, yang meninggal dalam kecelakaan helikopter pada Mei lalu.
"Rusia sedang bernegosiasi dengan Houthi untuk mentransfer rudal anti-kapal supersonik Yakhont," kata sumber intelijen Barat. "Iran memfasilitasi pembicaraan ini tetapi tidak ingin meninggalkan jejak."
Baik misi PBB Iran maupun Kementerian Pertahanan Rusia tidak menanggapi permintaan komentar. "Kami tidak mengetahui apa yang Anda sebutkan," kata Mohamed Abdel-Salam, juru bicara resmi Houthi Yaman.