Al-Fahmu Institute Sampaikan Belasungkawa atas Wafatnya 3 Ulama
Ilham
Ahad, 11 Juli 2021 - 14:09 WIB
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/ iStock
Setiap insan pasti akan menemui ajalnya. Namun, kapan dan di mana, itu adalah rahasia Allah SWT. Telah digariskan pula, kedatangan ajal tidak akan diundur atau pun dimajukan walau sesaat. Meski demikian, setiap orang harus terus waspada serta menjaga diri terutama di masa pandemi Covid-19.
Pendiri Al-Fahmu Institute, Ustadz Fahmi Salim mengatakan, kematian adalah ketentuan dari Allah SWT. Dia-lah zat yang menghidupkan dan mematikan makhluq-Nya. Kalau sudah waktunya, mau berlindung dengan cara apa pun, apabila kematian sudah mengintai, maka tidak ada yang bisa menghindar.
Ustadz Fahmi menyampaikan duka mendalam terhadap tiga ulama yang meninggal berturut seminggu ini, yaitu ulama kharismatik Betawi KH Abdurrasyid Abdullah Syafi'I, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri KH Zainudin Djazuli, dan KH Amien Noer, putra dari pahlawan nasional asal Bekasi KH Noer Ali.
“Saya dan keluarga besar Fahmi Institute menyampaikan duka mendalam. Inna lillahi wa innaa ilaihi raji'un atas berpulangnya para ulama kita dalam satu dua hari ini. Dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia. La hawla wala quwwata illa billahil "Aliyyil 'Azhim. Dalam berita resmi NU, sudah 584 dalam lingkungan pesantren. Mungkin di Persis juga sama, Muhammadiyah juga tapi tidak terlalu relatif tinggi,” katanya kepada LANGIT7.ID, Ahad (11/7/2021).
Ustadz Fahmi juga menyayangkan jika masih ada di antara ummat yang tak percaya adanya penularan Covid-19. Secara global, lebih 4 juta jiwa melayang setelah terinfeksi atau positif Covid-19. Di Indonesia, total kasus positif menjadi 2.491.006 orang dan kasus kematian tercatat sebanyak 65.457 orang.
Satu demi satu, ulama pergi meninggalkan ummat Islam dan bangsa Indonesia. Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama menyatakan, hingga 4 Juli 2021, sebanyak 584 kiai wafat. Ustadz Fahmi mengatakan, meski banyak korban meninggal akibat Covid-19, masih ada yang tidak percaya dengan adanya virus ganas tersebut. Mereka percaya teori konspirasi yang disebarkan kalangan tertentu.
Karena itu, perlu edukasi dan literasi untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan demi memutus mata ranta penularan wabah yang bersumber dari Wuhan, China, tersebut. "Bukan saya su'udz dzan, barangkali kita perlu mengigatkan untuk meningkatkan pentingnya sunnatullah di bidang medis, tentang penyakit dan bagaimana menanggulanginya. Mohon umat Islam dan para ulama tidak percaya kepada teori konspirasi yang disebarkan dalam kalangan tertentu. Virus corona ini nyata dan tak bisa dipungkiri,” katanya.
Pendiri Al-Fahmu Institute, Ustadz Fahmi Salim mengatakan, kematian adalah ketentuan dari Allah SWT. Dia-lah zat yang menghidupkan dan mematikan makhluq-Nya. Kalau sudah waktunya, mau berlindung dengan cara apa pun, apabila kematian sudah mengintai, maka tidak ada yang bisa menghindar.
Ustadz Fahmi menyampaikan duka mendalam terhadap tiga ulama yang meninggal berturut seminggu ini, yaitu ulama kharismatik Betawi KH Abdurrasyid Abdullah Syafi'I, Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri KH Zainudin Djazuli, dan KH Amien Noer, putra dari pahlawan nasional asal Bekasi KH Noer Ali.
“Saya dan keluarga besar Fahmi Institute menyampaikan duka mendalam. Inna lillahi wa innaa ilaihi raji'un atas berpulangnya para ulama kita dalam satu dua hari ini. Dari ujung timur sampai ujung barat Indonesia. La hawla wala quwwata illa billahil "Aliyyil 'Azhim. Dalam berita resmi NU, sudah 584 dalam lingkungan pesantren. Mungkin di Persis juga sama, Muhammadiyah juga tapi tidak terlalu relatif tinggi,” katanya kepada LANGIT7.ID, Ahad (11/7/2021).
Ustadz Fahmi juga menyayangkan jika masih ada di antara ummat yang tak percaya adanya penularan Covid-19. Secara global, lebih 4 juta jiwa melayang setelah terinfeksi atau positif Covid-19. Di Indonesia, total kasus positif menjadi 2.491.006 orang dan kasus kematian tercatat sebanyak 65.457 orang.
Satu demi satu, ulama pergi meninggalkan ummat Islam dan bangsa Indonesia. Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama menyatakan, hingga 4 Juli 2021, sebanyak 584 kiai wafat. Ustadz Fahmi mengatakan, meski banyak korban meninggal akibat Covid-19, masih ada yang tidak percaya dengan adanya virus ganas tersebut. Mereka percaya teori konspirasi yang disebarkan kalangan tertentu.
Karena itu, perlu edukasi dan literasi untuk meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan demi memutus mata ranta penularan wabah yang bersumber dari Wuhan, China, tersebut. "Bukan saya su'udz dzan, barangkali kita perlu mengigatkan untuk meningkatkan pentingnya sunnatullah di bidang medis, tentang penyakit dan bagaimana menanggulanginya. Mohon umat Islam dan para ulama tidak percaya kepada teori konspirasi yang disebarkan dalam kalangan tertentu. Virus corona ini nyata dan tak bisa dipungkiri,” katanya.