home global news

Netanyahu Ancam Hancurkan Lebanon seperti Gaza, Konflik Israel-Hizbullah Memanas

Rabu, 09 Oktober 2024 - 07:41 WIB
Netanyahu Ancam Hancurkan Lebanon seperti Gaza, Konflik Israel-Hizbullah Memanas
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengancam Lebanon dengan kehancuran "seperti Gaza" saat Israel meningkatkan operasi daratnya melawan Hizbullah di sepanjang pantai selatan Lebanon. Peringatan keras Netanyahu datang ketika militer Israel mengerahkan lebih banyak pasukan dan mendesak warga sipil di daerah pesisir untuk mengungsi.

"Kalian punya kesempatan untuk menyelamatkan Lebanon sebelum jatuh ke jurang perang panjang yang akan membawa kehancuran dan penderitaan seperti yang kita lihat di Gaza," kata Netanyahu dalam video yang ditujukan kepada rakyat Lebanon. "Saya katakan kepada kalian, rakyat Lebanon: Bebaskan negara kalian dari Hizbullah agar perang ini bisa berakhir."

Sebelumnya, Hizbullah mengaku telah menembakkan roket ke kota pelabuhan Israel Haifa, setelah militer Israel melaporkan 85 proyektil melintasi perbatasan dari Lebanon. Kelompok itu mengancam akan menembakkan lebih banyak roket ke kota-kota Israel jika pemboman pusat-pusat populasi Lebanon terus berlanjut.

Baca juga: Ketegangan Memanas, PBB Desak Israel Batalkan RUU Anti-UNRWA

Israel memperluas operasi di Lebanon hampir setahun setelah Hizbullah mulai bertukar tembakan untuk mendukung sekutunya, Hamas, menyusul serangan mematikan kelompok Palestina itu ke Israel pada 7 Oktober 2023.

Sementara bertempur melawan Hamas di Gaza, Israel bersumpah untuk mengamankan perbatasan utaranya dengan Lebanon agar puluhan ribu warga Israel yang mengungsi akibat tembakan lintas batas Hizbullah dapat kembali ke rumah mereka. Baik Hamas maupun Hizbullah telah berjanji tidak akan mengendurkan serangan terhadap Israel.

Pada Selasa, wakil pemimpin Hizbullah Naim Qassem mengatakan kelompok itu akan membuat orang Israel mustahil kembali ke utara. Israel melancarkan gelombang serangan terhadap basis-basis Hizbullah di Lebanon pada 23 September, menewaskan lebih dari 1.150 orang sejak saat itu dan memaksa lebih dari satu juta orang mengungsi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya