Pemanasan Global Mengancam Ekosistem Arktik, Kemampuan Tanaman untuk Bertahan Menurun Drastis
Nabil
Sabtu, 12 Oktober 2024 - 13:33 WIB
Pemanasan Global Mengancam Ekosistem Arktik, Kemampuan Tanaman untuk Bertahan Menurun Drastis
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Pemanasan global yang terjadi secara cepat telah berdampak besar pada ekosistem di wilayah utara. Para ilmuwan semakin khawatir tentang kemampuan wilayah ini untuk pulih dari guncangan iklim. Hal ini terungkap dalam sebuah studi baru yang berfokus pada ketahanan tanaman di Arktik.
Para peneliti menemukan bahwa gangguan yang sering terjadi seperti kebakaran hutan, kekeringan, dan penggundulan hutan telah mengurangi ketahanan banyak komunitas tanaman di hutan boreal selatan. Penurunan ketahanan ini - yang berarti kemampuan tanaman untuk bangkit kembali setelah mengalami tekanan lingkungan - bisa berdampak serius pada peran Arktik dalam menyerap karbon dioksida. Hal ini berpotensi mengubah wilayah tersebut dari penyerap karbon menjadi sumber karbon dalam waktu dekat.
Pergeseran ini sangat mengkhawatirkan karena wilayah Arktik dan boreal telah mengalami pemanasan beberapa kali lebih cepat dibandingkan bagian dunia lainnya, dan pemanasan ini diperkirakan akan terus berlanjut.
Yue Zhang, penulis utama studi dan mahasiswa pascasarjana ilmu bumi di Ohio State University, menjelaskan, "Ketika kita membahas respons hutan terhadap perubahan iklim, seringkali kita hanya memikirkan hutan hujan tropis. Namun, hutan boreal yang terpencil sangat penting karena luasnya yang besar, penyimpanan karbon yang besar, dan potensinya untuk mengurangi perubahan iklim."
Berdasarkan data historis dari program Arctic-Boreal Vulnerability Experiment (ABoVE) NASA, para peneliti menggunakan teknologi penginderaan jarak jauh untuk melacak perubahan kecil dalam kehijauan vegetasi di Alaska dan Kanada barat antara tahun 2000 dan 2019. Tujuannya adalah untuk memperkirakan seberapa cepat vegetasi pulih dari fluktuasi skala kecil dan kehilangan besar, bahkan di daerah yang belum mengalami kerusakan signifikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sementara ketahanan tanaman di hutan boreal selatan menurun seiring waktu, ketahanan di sebagian besar tundra Arktik tampaknya meningkat, meskipun ada area yang menghijau. Kebakaran, kekeringan, dan panas kemungkinan berkontribusi pada penurunan ketahanan di wilayah selatan, sementara perubahan ketersediaan nutrisi mungkin telah membantu vegetasi berkembang di bagian lain Arktik.
Namun, meskipun pelepasan nutrisi bisa bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman, suhu yang meningkat mengancam untuk mempercepat pencairan permafrost. Permafrost menyimpan jumlah karbon yang sangat besar, dan pencairannya bisa melepaskan emisi karbon setara dengan yang dihasilkan oleh 35 juta mobil setiap tahunnya, mempercepat datangnya titik kritis iklim.
Para peneliti menemukan bahwa gangguan yang sering terjadi seperti kebakaran hutan, kekeringan, dan penggundulan hutan telah mengurangi ketahanan banyak komunitas tanaman di hutan boreal selatan. Penurunan ketahanan ini - yang berarti kemampuan tanaman untuk bangkit kembali setelah mengalami tekanan lingkungan - bisa berdampak serius pada peran Arktik dalam menyerap karbon dioksida. Hal ini berpotensi mengubah wilayah tersebut dari penyerap karbon menjadi sumber karbon dalam waktu dekat.
Pergeseran ini sangat mengkhawatirkan karena wilayah Arktik dan boreal telah mengalami pemanasan beberapa kali lebih cepat dibandingkan bagian dunia lainnya, dan pemanasan ini diperkirakan akan terus berlanjut.
Yue Zhang, penulis utama studi dan mahasiswa pascasarjana ilmu bumi di Ohio State University, menjelaskan, "Ketika kita membahas respons hutan terhadap perubahan iklim, seringkali kita hanya memikirkan hutan hujan tropis. Namun, hutan boreal yang terpencil sangat penting karena luasnya yang besar, penyimpanan karbon yang besar, dan potensinya untuk mengurangi perubahan iklim."
Berdasarkan data historis dari program Arctic-Boreal Vulnerability Experiment (ABoVE) NASA, para peneliti menggunakan teknologi penginderaan jarak jauh untuk melacak perubahan kecil dalam kehijauan vegetasi di Alaska dan Kanada barat antara tahun 2000 dan 2019. Tujuannya adalah untuk memperkirakan seberapa cepat vegetasi pulih dari fluktuasi skala kecil dan kehilangan besar, bahkan di daerah yang belum mengalami kerusakan signifikan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sementara ketahanan tanaman di hutan boreal selatan menurun seiring waktu, ketahanan di sebagian besar tundra Arktik tampaknya meningkat, meskipun ada area yang menghijau. Kebakaran, kekeringan, dan panas kemungkinan berkontribusi pada penurunan ketahanan di wilayah selatan, sementara perubahan ketersediaan nutrisi mungkin telah membantu vegetasi berkembang di bagian lain Arktik.
Namun, meskipun pelepasan nutrisi bisa bermanfaat bagi pertumbuhan tanaman, suhu yang meningkat mengancam untuk mempercepat pencairan permafrost. Permafrost menyimpan jumlah karbon yang sangat besar, dan pencairannya bisa melepaskan emisi karbon setara dengan yang dihasilkan oleh 35 juta mobil setiap tahunnya, mempercepat datangnya titik kritis iklim.