Literasi Keuangan Syariah Indonesia Tertinggal Jauh, Pakar Ekonomi Serukan Edukasi dari Keluarga
Tim langit 7
Kamis, 24 Oktober 2024 - 13:32 WIB
Literasi Keuangan Syariah Indonesia Tertinggal Jauh, Pakar Ekonomi Serukan Edukasi dari Keluarga
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Tantangan besar menghadang perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. Meski menyandang status negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, tingkat pemahaman masyarakat terhadap sistem keuangan berbasis syariah masih memprihatinkan.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mengungkap fakta mengejutkan. Tingkat literasi keuangan syariah hanya mencapai 39,11 persen, tertinggal signifikan dibandingkan literasi keuangan konvensional yang mencapai 65,09 persen.
Kesenjangan semakin terlihat pada sektor asuransi syariah. Data menunjukkan tingkat literasi asuransi syariah hanya menyentuh angka 3,99 persen, sangat kontras dengan pemahaman masyarakat terhadap asuransi konvensional yang mencapai 45 persen.
"Keluarga memegang peran kunci dalam membangun fondasi pemahaman keuangan syariah. Kita perlu memulai edukasi ini dari unit terkecil masyarakat untuk menciptakan dampak yang lebih luas," ujar Adiwarman Azwar Karim, Pakar Ekonomi Syariah dalam acara Taklim Manajemen Harta Syariah/TAMARASYA, dikutip Kamis (24/10/2024).
Potensi pasar keuangan syariah di Indonesia sesungguhnya sangat besar, mengingat 84,35 persen dari total populasi atau sekitar 236 juta jiwa adalah muslim. Namun potensi ini belum diimbangi dengan tingkat literasi yang memadai.
"Mendorong pertumbuhan literasi keuangan syariah membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Kami berkomitmen menjadi garda terdepan dalam misi edukasi ini untuk menciptakan ekosistem keuangan syariah yang lebih kuat," ujar Rina Elvi Roza, Chief Actuary Officer Prudential Syariah.
Prudential Syariah sebagai salah satu pemain utama di industri asuransi syariah berkomitmen mendorong peningkatan literasi melalui berbagai program edukasi masyarakat.
Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 mengungkap fakta mengejutkan. Tingkat literasi keuangan syariah hanya mencapai 39,11 persen, tertinggal signifikan dibandingkan literasi keuangan konvensional yang mencapai 65,09 persen.
Kesenjangan semakin terlihat pada sektor asuransi syariah. Data menunjukkan tingkat literasi asuransi syariah hanya menyentuh angka 3,99 persen, sangat kontras dengan pemahaman masyarakat terhadap asuransi konvensional yang mencapai 45 persen.
"Keluarga memegang peran kunci dalam membangun fondasi pemahaman keuangan syariah. Kita perlu memulai edukasi ini dari unit terkecil masyarakat untuk menciptakan dampak yang lebih luas," ujar Adiwarman Azwar Karim, Pakar Ekonomi Syariah dalam acara Taklim Manajemen Harta Syariah/TAMARASYA, dikutip Kamis (24/10/2024).
Potensi pasar keuangan syariah di Indonesia sesungguhnya sangat besar, mengingat 84,35 persen dari total populasi atau sekitar 236 juta jiwa adalah muslim. Namun potensi ini belum diimbangi dengan tingkat literasi yang memadai.
"Mendorong pertumbuhan literasi keuangan syariah membutuhkan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan. Kami berkomitmen menjadi garda terdepan dalam misi edukasi ini untuk menciptakan ekosistem keuangan syariah yang lebih kuat," ujar Rina Elvi Roza, Chief Actuary Officer Prudential Syariah.
Prudential Syariah sebagai salah satu pemain utama di industri asuransi syariah berkomitmen mendorong peningkatan literasi melalui berbagai program edukasi masyarakat.
(lam)