home global news

Yudi Latif: Thayeb M Gobel Seorang Patriot Positif-Progresif, Segera Diusulkan Gelar Pahlawan Nasional

Kamis, 24 Oktober 2024 - 22:27 WIB
Yudi Latif: Thayeb M Gobel Seorang Patriot Positif-Progresif, Segera Diusulkan Gelar Pahlawan Nasional
LANGIT7.ID-Jakarta; Pemikir kebangsaan Dr Yudi Latif menilai Thayeb M Gobel adalah seorang patriot yang positif-progresif. “Beliau seorang yang fokus membangun dengan mengaplikasikan Pancasila dalam kehidupan usahanya,” katanya, Kamis,( 24/10/ 2024).

Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam launching dan bedah buku karya Nasihin Masha. Buku tersebut berjudul “Praksis Pancasila, Pengamalan Ideologi di Perusahaan Gobel”. Buku tersebut mengulas bagaimana Thayeb mempraktikkan Pancasila di perusahaannya dalam upaya bagian dari mewujudkan sistem ekonomi Pancasila. Yudi juga memberikan kata pengantar untuk buku tersebut. Pembicara lain adalah Dr Airlangga Pribadi dari Universitas Airlangga Surabaya dan Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Prof Dr Ma’mun Murod Al-Barbasy.

Acara yang berlangsung di Aula Kasman Singodimedjo, FISIP UMJ, itu terselenggara berkat kerja sama Pusat Studi Islam dan Pancasila (PSIP) UMJ dan Matsushita Gobel Foundation. Buku tersebut diterbitkan Penerbit Kompas. Dalam acara yang dipenuhi para mahasiswa dan undangan itu berlangsung khidmat. Hadir Gubernur Akademi Bela Negara Mayjen TNI Purn IGK Manila, Sekretaris Utama Bais TNI Marsekal Muda M Tawakal Saiful Haq Sidik, akademisi Prof Didin S Damanhuri, pengusaha Peter F Gontha, Dewan Pengarah BPIP Rikard Bagun, akademisi Dr Ahmad Baidhowi, dan para wartawan senior. Sedangkan Keynote Speaker adalah Dr (HC) Rachmat Gobel. Hadir juga Abdullah Tauhid Gobel dan direksi Panasonic Gobel.

Yudi Latif mengatakan, “Terus terang bagi saya buku ini adalah sebuah penghiburan, ketika Pak Nasihin meminta saya untuk memberi pengantar buku ini. Karena dulu saya kepikiran untuk menarik buku-buku saya tentang Pancasila. Kenapa? Karena semakin saya banyak menulis tentang Pancasila, semakin jauh antara realitas dan kenyataannya. Saya sering dicap sebagai pendusta. Tapi begitu saya baca, buku ini lain, dia berbicara tentang Pancasila dalam praktik. Jadi saya terhibur karena Pancasila bukan hanya sebagai angan-angan. Tapi sebenarnya bisa dilakukan dalam kenyataan.”

Yudi telah menulis empat buku tentang Pancasila, yaitu Negara Paripurna, Mata Air Keteladanan, Revolusi Pancasila, dan Wawasan Pancasila. Buku Mata Air Keteladanan berisi tentang kisah-kisah keteladanan dalam praktik Pancasila. “Saat menulis keteladanan Sila Kelima, saya mengalami kesulitan. Ternyata ini dijelaskan di buku Praksis Pancasila ini. Saat itu, literatur tentang Pak Thayeb sangat terbatas,” katanya.

Lebih lanjut Yudi menerangkan, urutan sila-sila dalam Pancasila dimulai dari yang paling abstrak hingga ke yang paling konkret, yaitu dari Ketuhanan Yang Maha Esa ke Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. “Namun mewujudkan sila yang paling konkret justru yang paling sulit. Sehingga saat menghadapi kesulitan orang lari ke yang abstrak. Terjadi apa yang dinamakan mabuk Tuhan,” katanya. Namun Thayeb, katanya, telah mampu melakukan interpretasi terhadap Pancasila untuk kemudian melakukan pelembagaan dalam rangka mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.

Yudi mengatakan, ada tiga syarat agar Pancasila bisa disebut sebagai ideologi. Pertama, ada konsep masyarakat ideal yang hendak dicapai sebagai suatu world view. Lalu disusun sebagai kode-kode nilai inti, yang bukan dihapalkan tapi dipraktikkan sebagai suatu teladan. Kedua, terjadi pelembagaan sosial. Ketiga, ada tata sejahtera seperti apa yang harus dicapai. “Tiga hal itu sudah diaplikasikan oleh Pak Thayeb. Beliau juga merupakan pelopor industri pengetahuan,” katanya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya