home global news

Kerusuhan Pecah di India, 4 Muslim Tewas dalam Survei Masjid Bersejarah di Sambhal

Rabu, 27 November 2024 - 08:49 WIB
Kerusuhan Pecah di India, 4 Muslim Tewas dalam Survei Masjid Bersejarah di Sambhal
LANGIT7.ID-, Jakarta- - Polisi telah menangkap puluhan orang, menutup akses internet, meliburkan sekolah, dan memperketat keamanan di distrik Sambhal, negara bagian Uttar Pradesh, India, menyusul kerusuhan mematikan yang terjadi saat survei masjid bersejarah era Mughal.

Setidaknya tiga pria Muslim – Naeem, Bilal, dan Noman – tewas pada hari Minggu ketika warga yang menentang survei Masjid Shahi Jama di Sambhal bentrok dengan polisi. Jumlah korban meningkat menjadi empat setelah seorang pemuda berusia 19 tahun meninggal akibat luka-lukanya.

"Semua sekolah dan perguruan tinggi telah ditutup dan pertemuan publik telah dilarang di Sambhal," kata pejabat polisi senior, Aunjaneya Kumar Singh. Pihak berwenang juga melarang orang luar, organisasi sosial, dan perwakilan publik memasuki kota tanpa izin resmi hingga 30 November, kata Singh, karena pemerintah berupaya keras mengendalikan kerusuhan.

Setidaknya 25 orang telah ditangkap dan pengaduan polisi telah diajukan terhadap sekitar 2.500 orang, termasuk anggota Parlemen setempat Zia-ur-Rehman Barq dari Partai Samajwadi (SP) regional, menurut kepala polisi Sambhal, Krishan Kumar Bishnoi.

Burq dituduh menghasut massa, tuduhan yang dia bantah. "Ini sangat disayangkan, ini adalah insiden yang direncanakan. Di seluruh negeri, umat Muslim menjadi target," katanya.

Survei masjid yang dilakukan didasarkan pada keputusan pengadilan lokal atas petisi yang diajukan oleh delapan penggugat yang dipimpin pengacara pro-Hindutva, Hari Shankar Jain. Mereka mengklaim masjid abad ke-16 itu dibangun di atas situs kuil Hindu.

Survei hari Minggu, yang kedua dalam lima hari, ditentang oleh komunitas lokal yang khawatir ini adalah upaya untuk mengambil alih masjid dan memicu ketegangan komunal. Survei pertama pada 19 November selesai dengan kerja sama masyarakat setempat. Muslim mengatakan pengadilan terburu-buru dengan survei dan mereka tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan kasus mereka.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya