Tathayyur: Merasa Diri Bernasib Sial Termasuk Syirik
Tim langit 7
Rabu, 11 Desember 2024 - 04:30 WIB
Tathayyur: Merasa Diri Bernasib Sial Termasuk Syirik
LANGIT7.ID-Tathayyur atau thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu, tempat, waktu, seseorang dan sebagainya.
Dalam Shahiih Muslim disebutkan, dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami ra, bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah SAW: “Di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur.”
Lalu beliau bersabda: “Itu adalah sesuatu yang akan kalian temui dalam diri kalian, akan tetapi janganlah engkau jadikan ia sebagai penghalang bagimu.’”
Ibnu Qayyim (wafat th. 751 H) dalam "Miftaah Daaris Sa’aadah" menjelaskan dahulu, orang-orang Arab Jahiliah suka menerbangkan atau melepas burung, jika burung itu terbang ke kanan, maka mereka menamakannya dengan ‘saa-ih’. Bila burung itu terbang ke kiri, mereka namakan dengan ‘baarih’. Kalau terbangnya ke depan disebut ‘na-thih’, dan manakala ke belakang, maka mereka menyebutnya ‘qa-id’.
Sebagian kaum bangsa Arab menganggap sial dengan baarih atau burungnya terbang ke kiri dan menganggap mujur dengan saa-ih yakni burungnya terbang ke kanan dan ada lagi yang berpendapat lain.
Tathayyur (merasa sial) tidak terbatas hanya pada terbangnya burung saja, tetapi pada nama-nama, bilangan, angka, orang-orang cacat dan sejenisnya.
Semua itu diharamkan dalam syari’at Islam dan dimasukkan dalam kategori perbuatan syirik oleh Rasulullah SAW, karena orang yang bertathayyur menganggap hal-hal tersebut membawa untung dan celaka. Keyakinan seperti ini jelas menyalahi keyakinan terhadap takdir (ketentuan) Allah SWT.
Dalam Shahiih Muslim disebutkan, dari Mu’awiyah bin al-Hakam as-Sulami ra, bahwasanya ia berkata kepada Rasulullah SAW: “Di antara kami ada orang-orang yang bertathayyur.”
Lalu beliau bersabda: “Itu adalah sesuatu yang akan kalian temui dalam diri kalian, akan tetapi janganlah engkau jadikan ia sebagai penghalang bagimu.’”
Ibnu Qayyim (wafat th. 751 H) dalam "Miftaah Daaris Sa’aadah" menjelaskan dahulu, orang-orang Arab Jahiliah suka menerbangkan atau melepas burung, jika burung itu terbang ke kanan, maka mereka menamakannya dengan ‘saa-ih’. Bila burung itu terbang ke kiri, mereka namakan dengan ‘baarih’. Kalau terbangnya ke depan disebut ‘na-thih’, dan manakala ke belakang, maka mereka menyebutnya ‘qa-id’.
Sebagian kaum bangsa Arab menganggap sial dengan baarih atau burungnya terbang ke kiri dan menganggap mujur dengan saa-ih yakni burungnya terbang ke kanan dan ada lagi yang berpendapat lain.
Tathayyur (merasa sial) tidak terbatas hanya pada terbangnya burung saja, tetapi pada nama-nama, bilangan, angka, orang-orang cacat dan sejenisnya.
Semua itu diharamkan dalam syari’at Islam dan dimasukkan dalam kategori perbuatan syirik oleh Rasulullah SAW, karena orang yang bertathayyur menganggap hal-hal tersebut membawa untung dan celaka. Keyakinan seperti ini jelas menyalahi keyakinan terhadap takdir (ketentuan) Allah SWT.