Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia, Fokus Edukasi dan Pelayanan pada ODS
Lusi mahgriefie
Sabtu, 14 Desember 2024 - 06:15 WIB
Salah satu kegiatan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia yang fokus pada edukasi dan pelayanan pada ODS.Foto/dok Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia
Menurut hasil Disability Adjusted Life Years, Indonesia memiliki angka pengidap skizofrenia terbanyak di dunia. Jumlah pasien yang merupakan orang dengan skizofrenia (ODS) di Indonesia menduduki peringkat satu dunia.
Merujuk dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, diperkirakan sekira 450 ribu masyarakat Indonesia merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat.
Skizofrenia sendiri adalah gangguan jiwa berat yang mempengaruhi bagaimana penderitanya melihat kenyataan. Ketidakseimbangan neurotransmitter atau senyawa kimia di otak, di antaranya kelebihan dopamin, membuat ODS kesulitan membedakan mana nyata dan tidak nyata.
Baca juga: Bobby Kertanegara, Kucing Prabowo Raih Penghargaan Google sebagai Sosok Paling Dicari Sepanjang 2024
Umumnya ODS mendengar suara, bisikan, atau punya keyakinan yang keliru tentang dirinya. Apabila tidak ditangani dengan tepat dan segera, disabilitas psikososial ini dapat menurunkan fungsi-fungsi dan kualitas hidup seseorang.
Tak banyak yang menyadari apalagi mengakui dirinya, keluarga ataupun kerabatnya mengidap skizofrenia. Yang dikhawatirkan adalah akibat ketidaktahuan maka makin larut dan terlanjur menjadi masalah besar di kemudian hari.
Sepanjang 2024, penderita skizofrenia paling banyak diopname di DKI Jakarta. Dari data Dinas Kesehatan Jakarta itu tercatat, jumlahnya lebih banyak dari pasien pneumonia, diare, diabetes, hingga DBD. Tahun lalu ada 11.555 Orang dengan Skizofrenia (ODS) yang dirawat inap di berbagai rumah sakit umum serta 55.253 ODS yang rawat jalan.
Merujuk dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, diperkirakan sekira 450 ribu masyarakat Indonesia merupakan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) berat.
Skizofrenia sendiri adalah gangguan jiwa berat yang mempengaruhi bagaimana penderitanya melihat kenyataan. Ketidakseimbangan neurotransmitter atau senyawa kimia di otak, di antaranya kelebihan dopamin, membuat ODS kesulitan membedakan mana nyata dan tidak nyata.
Baca juga: Bobby Kertanegara, Kucing Prabowo Raih Penghargaan Google sebagai Sosok Paling Dicari Sepanjang 2024
Umumnya ODS mendengar suara, bisikan, atau punya keyakinan yang keliru tentang dirinya. Apabila tidak ditangani dengan tepat dan segera, disabilitas psikososial ini dapat menurunkan fungsi-fungsi dan kualitas hidup seseorang.
Tak banyak yang menyadari apalagi mengakui dirinya, keluarga ataupun kerabatnya mengidap skizofrenia. Yang dikhawatirkan adalah akibat ketidaktahuan maka makin larut dan terlanjur menjadi masalah besar di kemudian hari.
Sepanjang 2024, penderita skizofrenia paling banyak diopname di DKI Jakarta. Dari data Dinas Kesehatan Jakarta itu tercatat, jumlahnya lebih banyak dari pasien pneumonia, diare, diabetes, hingga DBD. Tahun lalu ada 11.555 Orang dengan Skizofrenia (ODS) yang dirawat inap di berbagai rumah sakit umum serta 55.253 ODS yang rawat jalan.