Kisah Tabiin Dzakhwan bin Kaisan: Si Burung Merak yang Membuat Penguasa Zalim Mati Kutu
Tim langit 7
Rabu, 01 Januari 2025 - 04:50 WIB
Kisah Tabiin Dzakhwan bin Kaisan: Si Burung Merak yang Membuat Penguasa Zalim Mati Kutu
LANGIT7.ID-Jakarta; Di tengah bertaburnya lima puluh bintang hidayah yang bersinar terang (yakni para sahabat), maka terkumpullah cahaya terang pada dirinya. Cahaya di hatinya, cahaya di lidahnya, dan cahaya di depan matanya.
Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya dalam bukunya berjudul “Mereka Adalah Para Tabi’in” menceritakan, di bawah bimbingan 50 ulama alumnus Madrasah Muhammad, Thawus seakan menjelma menjadi duplikat bagi para sahabat Rasulullah SAW dalam kemantapan iman, kejujuran kata-kata, kezuhudan terhadap dunia dan keberanian dalam menyerukan kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal.
Madrasah Muhammadiyah (pengikut Muhammad) mengajarkan kepadanya bahwa agama adalah nasihat. Nasihat bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.
Fakta menjadi bukti baginya bahwa kebaikan secara total dapat terwujud bila dimulai dari penguasa. Bila baik pemimpinnya, akan baik pula umatnya. Bila rusak pemimpinnya, rusak pula rakyatnya.
Begitulah sekilas tentang Dzakhwan bin Kaisan yang mendapat julukan Thawus (burung merak) karena dia laksana thawus bagi para fuqaha dan pemuka pada masanya.
Thawus bin Kaisan adalah penduduk Yaman, gubernur negerinya saat itu adalah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf yang menguasa Irak dan sekitarnya.
Hajjaj menempatkan saudaranya itu sebagai wali setelah kekuasaannya menguat dan pamornya melejit, terutama sejak ia mampu membendung gerakan Abdullah bin Zubair.
Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya dalam bukunya berjudul “Mereka Adalah Para Tabi’in” menceritakan, di bawah bimbingan 50 ulama alumnus Madrasah Muhammad, Thawus seakan menjelma menjadi duplikat bagi para sahabat Rasulullah SAW dalam kemantapan iman, kejujuran kata-kata, kezuhudan terhadap dunia dan keberanian dalam menyerukan kalimat yang benar kendati harus ditebus dengan harga yang mahal.
Madrasah Muhammadiyah (pengikut Muhammad) mengajarkan kepadanya bahwa agama adalah nasihat. Nasihat bagi Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin.
Fakta menjadi bukti baginya bahwa kebaikan secara total dapat terwujud bila dimulai dari penguasa. Bila baik pemimpinnya, akan baik pula umatnya. Bila rusak pemimpinnya, rusak pula rakyatnya.
Begitulah sekilas tentang Dzakhwan bin Kaisan yang mendapat julukan Thawus (burung merak) karena dia laksana thawus bagi para fuqaha dan pemuka pada masanya.
Thawus bin Kaisan adalah penduduk Yaman, gubernur negerinya saat itu adalah Muhammad bin Yusuf ats-Tsaqafi, saudara dari Hajjaj bin Yusuf yang menguasa Irak dan sekitarnya.
Hajjaj menempatkan saudaranya itu sebagai wali setelah kekuasaannya menguat dan pamornya melejit, terutama sejak ia mampu membendung gerakan Abdullah bin Zubair.