Siapa yang Pantas Menyandang Salaf? Begini Penjelasan Cak Nur
Miftah yusufpati
Rabu, 08 Januari 2025 - 16:00 WIB
Prof Dr Nucholish Madjid
LANGIT7.ID-Polemik mengenai Wahabi dan Salafi terus memanas belakangan ini. Apalagi ada pihak-pihak dari mereka yang mengaku Salafi mengeluarkan pernyataan miring terhadap Ustaz Adi Hidayat dan Ustaz Nuruddin. Lalu, apa sejatinya Salaf itu?
Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005) atau Cak Nur dalam bukunya berjudul "Islam Doktrin dan Peradaban" (Paramadina, 1992) menjelaskan perkataan Arab "salaf" sendiri secara harfiah berarti "yang lampau."
Biasanya ia dihadapkan dengan perkataan "khalaf', yang makna harfiahnya ialah "yang belakangan".
Kemudian, dalam perkembangan semantiknya, perkataan "salaf' memperoleh makna sedemikian rupa sehingga mengandung konotasi masa lampau yang berkewenangan atau berotoritas, sesuai dengan kecenderungan banyak masyarakat untuk melihat masa lampau sebagai masa yang berotoritas.
"Ini melibatkan masalah teologis, yaitu masalah mengapa masa lampau itu mempunyai otoritas, dan sampai dimana kemungkinan mengidentifikasi secara historis masa salaf itu," tutur Cak Nur.
Dalam hal ini, kata Cak Nur, para pemikir Islam tidak banyak menemui kesulitan. Masa lampau itu otoritatif karena dekat dengan masa hidup Nabi.
Sedangkan semuanya mengakui dan meyakini bahwa Nabi tidak saja menjadi sumber pemahaman ajaran agama Islam, tetapi sekaligus menjadi teladan realisasi ajaran itu dalam kehidupan nyata.
Prof Dr Nurcholish Madjid (1939-2005) atau Cak Nur dalam bukunya berjudul "Islam Doktrin dan Peradaban" (Paramadina, 1992) menjelaskan perkataan Arab "salaf" sendiri secara harfiah berarti "yang lampau."
Biasanya ia dihadapkan dengan perkataan "khalaf', yang makna harfiahnya ialah "yang belakangan".
Kemudian, dalam perkembangan semantiknya, perkataan "salaf' memperoleh makna sedemikian rupa sehingga mengandung konotasi masa lampau yang berkewenangan atau berotoritas, sesuai dengan kecenderungan banyak masyarakat untuk melihat masa lampau sebagai masa yang berotoritas.
"Ini melibatkan masalah teologis, yaitu masalah mengapa masa lampau itu mempunyai otoritas, dan sampai dimana kemungkinan mengidentifikasi secara historis masa salaf itu," tutur Cak Nur.
Dalam hal ini, kata Cak Nur, para pemikir Islam tidak banyak menemui kesulitan. Masa lampau itu otoritatif karena dekat dengan masa hidup Nabi.
Sedangkan semuanya mengakui dan meyakini bahwa Nabi tidak saja menjadi sumber pemahaman ajaran agama Islam, tetapi sekaligus menjadi teladan realisasi ajaran itu dalam kehidupan nyata.