Trump Bersumpah Jadi Pembawa Perdamaian, Namun Ancam Rebut Kanal Panama
Nabil
Selasa, 21 Januari 2025 - 04:50 WIB
Trump Bersumpah Jadi Pembawa Perdamaian, Namun Ancam Rebut Kanal Panama
LANGIT7.ID-Washington; Dalam momen bersejarah di Gedung Capitol Washington DC, Donald Trump resmi dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke-47 pada Senin (20/1). Pelantikan yang berlangsung di Rotunda Capitol ini menjadi sorotan dunia, terutama karena pernyataan kontradiktif Trump mengenai visi kepemimpinannya.
Di awal pidato pelantikannya, Trump menyampaikan komitmen untuk menjadi sosok pemimpin yang mengutamakan perdamaian. Dengan nada yang meyakinkan, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemenangan dalam pertempuran, tetapi juga kemampuan untuk mencegah konflik.
Baca juga: Putin Sambut Pelantikan Trump, Siap Diskusikan Perdamaian Ukraina
"Sukses kita akan diukur tidak hanya dari pertempuran yang kita menangkan, tetapi juga dari perang yang kita akhiri, dan mungkin yang paling penting, perang yang tidak pernah kita masuki. Warisan saya yang paling saya banggakan adalah menjadi seorang pembawa perdamaian dan penyatu. Itulah yang saya inginkan, menjadi seorang pembawa perdamaian dan penyatu," ujar Trump dalam pidatonya.
Kontroversi Klaim Kanal Panama
Namun, atmosfer perdamaian yang dibangun Trump dalam pidatonya berubah drastis ketika ia mengumumkan rencananya untuk mengambil alih Kanal Panama. Pernyataan ini mengejutkan komunitas internasional, mengingat kanal tersebut telah berada di bawah kendali pemerintah Panama sejak beberapa dekade lalu.
Rencana pengambilalihan ini mendapat penolakan keras dari pemerintah Panama. Meski demikian, Trump tetap bersikukuh dengan ambisinya dan bahkan mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya.
Di awal pidato pelantikannya, Trump menyampaikan komitmen untuk menjadi sosok pemimpin yang mengutamakan perdamaian. Dengan nada yang meyakinkan, ia menekankan bahwa keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak hanya diukur dari kemenangan dalam pertempuran, tetapi juga kemampuan untuk mencegah konflik.
Baca juga: Putin Sambut Pelantikan Trump, Siap Diskusikan Perdamaian Ukraina
"Sukses kita akan diukur tidak hanya dari pertempuran yang kita menangkan, tetapi juga dari perang yang kita akhiri, dan mungkin yang paling penting, perang yang tidak pernah kita masuki. Warisan saya yang paling saya banggakan adalah menjadi seorang pembawa perdamaian dan penyatu. Itulah yang saya inginkan, menjadi seorang pembawa perdamaian dan penyatu," ujar Trump dalam pidatonya.
Kontroversi Klaim Kanal Panama
Namun, atmosfer perdamaian yang dibangun Trump dalam pidatonya berubah drastis ketika ia mengumumkan rencananya untuk mengambil alih Kanal Panama. Pernyataan ini mengejutkan komunitas internasional, mengingat kanal tersebut telah berada di bawah kendali pemerintah Panama sejak beberapa dekade lalu.
Rencana pengambilalihan ini mendapat penolakan keras dari pemerintah Panama. Meski demikian, Trump tetap bersikukuh dengan ambisinya dan bahkan mengisyaratkan kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya.