Indonesia Perkuat Pemanfaatan AI untuk Capai Target SDGs, Proyeksi Ekonomi Digital Melonjak 9 Kali Lipat
Tim langit 7
Rabu, 19 Februari 2025 - 20:40 WIB
Indonesia Perkuat Pemanfaatan AI untuk Capai Target SDGs, Proyeksi Ekonomi Digital Melonjak 9 Kali Lipat
LANGIT7.ID-Jakarta; Indonesia terus menunjukkan komitmen kuatnya dalam mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) di kawasan Asia. Hal ini terungkap dalam seminar "Exploring Artificial Intelligence Potential in Achieving Sustainable Development in Asia" yang diselenggarakan di Jakarta, Selasa (18/02).
"Indonesia telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam daya saing digital, dengan naik 13 peringkat dalam World Digital Competitiveness Ranking sejak 2019, dan kini berada di peringkat ke-43 pada 2024. Selain itu, Indonesia juga naik tujuh peringkat dalam Global Innovation Index (GII), menempati peringkat ke-54 pada 2024," ujar Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pujo Setio, Rabu (19/2/2025).
Proyeksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. Diprediksi akan tumbuh hingga 9 kali lipat dari tahun 2022 hingga 2045, dengan kontribusi mencapai 20% terhadap PDB nasional atau setara dengan Rp15.000 – 20.000 triliun. Khusus untuk implementasi AI di kawasan Asia Tenggara, teknologi ini diproyeksikan mampu mendongkrak PDB sebesar USD1 triliun pada 2030, dengan Indonesia berkontribusi signifikan hingga 40% atau setara dengan USD366 miliar.
Dalam upaya mempersiapkan implementasi AI yang efektif, Indonesia telah menyelesaikan Penilaian Kesiapan Artificial Intelligence menggunakan metodologi UNESCO's Readiness Assessment Methodology (RAM). Langkah strategis ini menjadi fondasi penting untuk memastikan pemanfaatan AI dapat mendukung SDGs secara inklusif dan bertanggung jawab.
Indonesia juga aktif terlibat dalam negosiasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di kawasan ASEAN. Melalui kerangka kerja sama ini, ekonomi digital ASEAN diproyeksikan mampu tumbuh mencapai USD2 triliun pada 2030. Keterlibatan aktif Indonesia dalam forum regional ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang bersinergi.
Seminar yang diselenggarakan atas kerja sama antara LPEM FEB Universitas Indonesia, Asian Development Bank Institute (ADBI), Toshiba Foundation (TIFO), dan GraSPP The University of Tokyo ini menghadirkan berbagai pakar terkemuka. Di antaranya Vivi Yulaswati (Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital, Bappenas), Tetsushi Sonobe (Dean & CEO ADBI), Vid Adrison (Kepala Departemen Ekonomi FEB UI), serta Bambang Brodjonegoro (Penasihat Khusus Presiden untuk Urusan Ekonomi dan Pembangunan Nasional).
Para pembicara internasional turut memberikan perspektif global, termasuk Toshiro Nishizawa dari The University of Tokyo, Prof. Masaru Yarima dari Hong Kong University of Science and Technology, dan Shinobu Yamaguchi dari United Nations University Institute for Advanced Study of Sustainability. Kehadiran para pakar ini memperkaya diskusi tentang potensi AI dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Asia.
"Indonesia telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam daya saing digital, dengan naik 13 peringkat dalam World Digital Competitiveness Ranking sejak 2019, dan kini berada di peringkat ke-43 pada 2024. Selain itu, Indonesia juga naik tujuh peringkat dalam Global Innovation Index (GII), menempati peringkat ke-54 pada 2024," ujar Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Pujo Setio, Rabu (19/2/2025).
Proyeksi pertumbuhan ekonomi digital Indonesia menunjukkan potensi yang sangat menjanjikan. Diprediksi akan tumbuh hingga 9 kali lipat dari tahun 2022 hingga 2045, dengan kontribusi mencapai 20% terhadap PDB nasional atau setara dengan Rp15.000 – 20.000 triliun. Khusus untuk implementasi AI di kawasan Asia Tenggara, teknologi ini diproyeksikan mampu mendongkrak PDB sebesar USD1 triliun pada 2030, dengan Indonesia berkontribusi signifikan hingga 40% atau setara dengan USD366 miliar.
Dalam upaya mempersiapkan implementasi AI yang efektif, Indonesia telah menyelesaikan Penilaian Kesiapan Artificial Intelligence menggunakan metodologi UNESCO's Readiness Assessment Methodology (RAM). Langkah strategis ini menjadi fondasi penting untuk memastikan pemanfaatan AI dapat mendukung SDGs secara inklusif dan bertanggung jawab.
Indonesia juga aktif terlibat dalam negosiasi Digital Economy Framework Agreement (DEFA) di kawasan ASEAN. Melalui kerangka kerja sama ini, ekonomi digital ASEAN diproyeksikan mampu tumbuh mencapai USD2 triliun pada 2030. Keterlibatan aktif Indonesia dalam forum regional ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem digital yang bersinergi.
Seminar yang diselenggarakan atas kerja sama antara LPEM FEB Universitas Indonesia, Asian Development Bank Institute (ADBI), Toshiba Foundation (TIFO), dan GraSPP The University of Tokyo ini menghadirkan berbagai pakar terkemuka. Di antaranya Vivi Yulaswati (Deputi Bidang Ekonomi dan Transformasi Digital, Bappenas), Tetsushi Sonobe (Dean & CEO ADBI), Vid Adrison (Kepala Departemen Ekonomi FEB UI), serta Bambang Brodjonegoro (Penasihat Khusus Presiden untuk Urusan Ekonomi dan Pembangunan Nasional).
Para pembicara internasional turut memberikan perspektif global, termasuk Toshiro Nishizawa dari The University of Tokyo, Prof. Masaru Yarima dari Hong Kong University of Science and Technology, dan Shinobu Yamaguchi dari United Nations University Institute for Advanced Study of Sustainability. Kehadiran para pakar ini memperkaya diskusi tentang potensi AI dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Asia.