Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tegaskan Komitmen Pelestarian Warisan Megalitik Nusantara
Tim langit 7
Kamis, 27 Februari 2025 - 16:54 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Tegaskan Komitmen Pelestarian Warisan Megalitik Nusantara
LANGIT7.ID-Bali; Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Dr. Fadli Zon, meresmikan Museum Sarkofagus di Kabupaten Gianyar, Bali, pada Kamis (27/02/2025). Peresmian dan aktivasi ini menjadi langkah besar dalam pelestarian dan penguatan kajian warisan megalitik, menegaskan kembali narasi Indonesia sebagai salah satu pusat peradaban tertua di dunia.
Museum ini menampilkan 33 koleksi sarkofagus yang berasal dari berbagai daerah di Bali, pertama kali dikumpulkan oleh arkeolog senior Indonesia R.P. Soejono tahun 1958. Sarkofagus dinilai penting untuk memahami lebih dalam tentang keyakinan, norma, dan struktur masyarakat prasejarah.
"Sebagai peninggalan arkeologis, sarkofagus-sarkofagus ini menjadi jendela yang membuka wawasan kita terhadap bagaimana leluhur Nusantara memahami kehidupan, kematian, hubungan dengan alam semesta, dan bahkan sistem sosial prasejarah yang terorganisir. Museum ini hadir untuk menghidupkan kembali narasi tersebut, sebagai pusat edukasi, riset, dan konservasi, agar generasi mendatang dapat memahami dan menghargai jejak panjang peradaban kita," ujar Fadli Zon dalam sambutannya.
Keberadaan sarkofagus di Bali terkait erat dengan budaya megalitik di berbagai wilayah Indonesia; mulai dari kubur batu di Sumba, liang atau makam tebing di Toraja, hingga pemakaman tempayan di Gilimanuk, Bali Barat. “Jejak peradaban kita ini menunjukkan adanya interaksi antar-budaya sejak masa prasejarah,” ungkap Fadli.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam berbagai kebudayaan, termasuk Mesir kuno, Yunani, dan Romawi, sarkofagus digunakan sebagai bagian dari kepercayaan terhadap transisi ke kehidupan berikutnya. “Sarkofagus yang ditemukan di Bali ini bahkan lebih primitif sehingga bisa jadi lebih tua, dengan berbagai motif ukiran yang masih menjadi misteri. Kita akan dorong kajian dan penelitian lanjutan terhadap temuan-temuan ini, untuk mengungkap lebih banyak informasi dan tata hidup masyarakat prasejarah Nusantara,” tambahnya.
Fadli Zon berharap aktivasi museum ini dapat membawa narasi peradaban kuno lebih dekat dengan masyarakat. Dalam laporannya, Plt. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV, I Gusti Agung Gede Artanegara, mengungkapkan tantangan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan ini.
“Jika temuan ini hanya dibiarkan sebagai artefak statis, maka ia tidak akan hidup. Perlu ada edukasi lebih lanjut bagi masyarakat, penelitian mendalam, serta pendekatan yang membuat generasi muda merasa dekat dengan sejarah ini,” tegas Fadli. Oleh karena itu, Museum Sarkofagus dirancang lebih imersif dan edukatif, termasuk bekerja sama dengan Universitas Udayana dan Asosiasi Museum Indonesia (AMI) dalam pengembangan digitalisasi dan multimedia interaktif.
Museum ini menampilkan 33 koleksi sarkofagus yang berasal dari berbagai daerah di Bali, pertama kali dikumpulkan oleh arkeolog senior Indonesia R.P. Soejono tahun 1958. Sarkofagus dinilai penting untuk memahami lebih dalam tentang keyakinan, norma, dan struktur masyarakat prasejarah.
"Sebagai peninggalan arkeologis, sarkofagus-sarkofagus ini menjadi jendela yang membuka wawasan kita terhadap bagaimana leluhur Nusantara memahami kehidupan, kematian, hubungan dengan alam semesta, dan bahkan sistem sosial prasejarah yang terorganisir. Museum ini hadir untuk menghidupkan kembali narasi tersebut, sebagai pusat edukasi, riset, dan konservasi, agar generasi mendatang dapat memahami dan menghargai jejak panjang peradaban kita," ujar Fadli Zon dalam sambutannya.
Keberadaan sarkofagus di Bali terkait erat dengan budaya megalitik di berbagai wilayah Indonesia; mulai dari kubur batu di Sumba, liang atau makam tebing di Toraja, hingga pemakaman tempayan di Gilimanuk, Bali Barat. “Jejak peradaban kita ini menunjukkan adanya interaksi antar-budaya sejak masa prasejarah,” ungkap Fadli.
Ia juga menyampaikan bahwa dalam berbagai kebudayaan, termasuk Mesir kuno, Yunani, dan Romawi, sarkofagus digunakan sebagai bagian dari kepercayaan terhadap transisi ke kehidupan berikutnya. “Sarkofagus yang ditemukan di Bali ini bahkan lebih primitif sehingga bisa jadi lebih tua, dengan berbagai motif ukiran yang masih menjadi misteri. Kita akan dorong kajian dan penelitian lanjutan terhadap temuan-temuan ini, untuk mengungkap lebih banyak informasi dan tata hidup masyarakat prasejarah Nusantara,” tambahnya.
Fadli Zon berharap aktivasi museum ini dapat membawa narasi peradaban kuno lebih dekat dengan masyarakat. Dalam laporannya, Plt. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XV, I Gusti Agung Gede Artanegara, mengungkapkan tantangan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya warisan ini.
“Jika temuan ini hanya dibiarkan sebagai artefak statis, maka ia tidak akan hidup. Perlu ada edukasi lebih lanjut bagi masyarakat, penelitian mendalam, serta pendekatan yang membuat generasi muda merasa dekat dengan sejarah ini,” tegas Fadli. Oleh karena itu, Museum Sarkofagus dirancang lebih imersif dan edukatif, termasuk bekerja sama dengan Universitas Udayana dan Asosiasi Museum Indonesia (AMI) dalam pengembangan digitalisasi dan multimedia interaktif.