Peringatan BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Perluasan Banjir Jabodetabek
Tim langit 7
Rabu, 05 Maret 2025 - 07:21 WIB
Peringatan BMKG: Operasi Modifikasi Cuaca untuk Cegah Perluasan Banjir Jabodetabek
LANGIT7.ID-Jakarta;Peringatan BMKG dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong kedua lembaga untuk menggelar operasi modifikasi cuaca hingga 8 Maret 2025 guna mengatasi potensi banjir di Jabodetabek. Langkah strategis ini diambil setelah BMKG mencatat curah hujan ekstrem mencapai 232 milimeter dalam 24 jam, dengan prediksi hujan ekstrem akan kembali meningkat sekitar 11 Maret 2025.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca BMKG tidak ditujukan untuk mencegah hujan, melainkan untuk mengurangi intensitasnya agar banjir tidak semakin meluas. "Awan-awan akan dijatuhkan ke laut atau waduk bukan ke darat yang justru akan memperparah banjir," jelasnya dalam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Rabu (5/3/2025) malam.
Strategi ini didasarkan pada data satelit yang menunjukkan potensi banjir Jabodetabek semakin tinggi karena kumpulan awan besar telah menutupi hampir seluruh wilayah Jawa Barat, bahkan meluas hingga Lampung dan Palembang. "Jadi jangan sampai awan tumbuh sebanyak itu sehingga awan datang sedikit kita turunkan ke laut dan waduk," terang Dwikorita. Jawa Barat menjadi prioritas dalam operasi modifikasi cuaca karena karakteristiknya sebagai wilayah pegunungan, yang jika mengalami banjir akan berdampak pada Jakarta sebagai daerah hilir.
Hujan ekstrem BMKG telah terdeteksi sejak beberapa hari lalu, sehingga modifikasi cuaca menjadi opsi krusial bagi pemerintah mengingat BMKG telah memberikan peringatan dini sejak 27 Februari 2025 terkait potensi banjir yang berlaku dari 28 Februari hingga 6 Maret 2025. "Setiap tiga jam diulang," tegas Dwikorita, menggambarkan intensitas pemantauan dan peringatan yang dilakukan BMKG.
Meski upaya modifikasi cuaca sedang dilakukan, BMKG tetap menghimbau masyarakat untuk waspada dan siaga terhadap curah hujan ekstrem, terutama bagi mereka yang tinggal di dekat sungai atau di daerah rawan longsor. Dwikorita menekankan pentingnya seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah memperhatikan peringatan dini dari BMKG untuk mengantisipasi dampak dari hujan ekstrem yang diprediksi akan terus berlangsung.
Dengan intensitas hujan yang diperkirakan akan kembali meningkat pada 11 Maret mendatang, keberhasilan operasi modifikasi cuaca menjadi harapan besar dalam upaya pencegahan perluasan banjir di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Sementara itu, BMKG terus memantau perkembangan cuaca secara intensif dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca BMKG tidak ditujukan untuk mencegah hujan, melainkan untuk mengurangi intensitasnya agar banjir tidak semakin meluas. "Awan-awan akan dijatuhkan ke laut atau waduk bukan ke darat yang justru akan memperparah banjir," jelasnya dalam di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, dikutip Rabu (5/3/2025) malam.
Strategi ini didasarkan pada data satelit yang menunjukkan potensi banjir Jabodetabek semakin tinggi karena kumpulan awan besar telah menutupi hampir seluruh wilayah Jawa Barat, bahkan meluas hingga Lampung dan Palembang. "Jadi jangan sampai awan tumbuh sebanyak itu sehingga awan datang sedikit kita turunkan ke laut dan waduk," terang Dwikorita. Jawa Barat menjadi prioritas dalam operasi modifikasi cuaca karena karakteristiknya sebagai wilayah pegunungan, yang jika mengalami banjir akan berdampak pada Jakarta sebagai daerah hilir.
Hujan ekstrem BMKG telah terdeteksi sejak beberapa hari lalu, sehingga modifikasi cuaca menjadi opsi krusial bagi pemerintah mengingat BMKG telah memberikan peringatan dini sejak 27 Februari 2025 terkait potensi banjir yang berlaku dari 28 Februari hingga 6 Maret 2025. "Setiap tiga jam diulang," tegas Dwikorita, menggambarkan intensitas pemantauan dan peringatan yang dilakukan BMKG.
Meski upaya modifikasi cuaca sedang dilakukan, BMKG tetap menghimbau masyarakat untuk waspada dan siaga terhadap curah hujan ekstrem, terutama bagi mereka yang tinggal di dekat sungai atau di daerah rawan longsor. Dwikorita menekankan pentingnya seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah memperhatikan peringatan dini dari BMKG untuk mengantisipasi dampak dari hujan ekstrem yang diprediksi akan terus berlangsung.
Dengan intensitas hujan yang diperkirakan akan kembali meningkat pada 11 Maret mendatang, keberhasilan operasi modifikasi cuaca menjadi harapan besar dalam upaya pencegahan perluasan banjir di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya. Sementara itu, BMKG terus memantau perkembangan cuaca secara intensif dan memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
(lam)