Asap Rokok Masih Penyebab No.1 Penyakit Paru Kronik
Muhajirin
Jum'at, 24 September 2021 - 21:01 WIB
Seorang dokter mendiagnosa paru-paru lewat hasil foto rontgen thorax atau dada (ilustrasi) Foto: Langit7.id/Istock
Asap rokok menjadi faktor risiko utama terjadinya Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Hal itu disampaikan Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
PPOK menjadi salah satu penyakit paru penyebab kematian di Indonesia dengan angka prevalensi sekitar 4,5 persen.
"Faktor risiko utama terjadinya PPOK adalah paparan asap rokok," kata Ketua Umum PDPI Agus Dwi Susanto dalam konferensi pers Peringatan Hari Paru Sedunia (World Lung Day) yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (24/9).
Dalam kesempatan itu, ia juga menyebut lima penyakit pernapasan yang paling besar dampaknya bagi sistem kesehatan yaitu PPOK, asma, infeksi saluran napas bawah akut, tuberkulosis (TB) dan kanker paru.
Pada penyakit asma, menurut dia, sekitar 334 juta penduduk dunia mengalami asma dan angka insidensinya selalu meningkat dalam tiga dekade terakhir.
"Terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu munculnya asma yaitu faktor genetik, polusi udara, infeksi saluran napas pada masa kanak-kanak, faktor makanan dan paparan alergen lingkungan," katanya.
Baca Juga:
PPOK menjadi salah satu penyakit paru penyebab kematian di Indonesia dengan angka prevalensi sekitar 4,5 persen.
"Faktor risiko utama terjadinya PPOK adalah paparan asap rokok," kata Ketua Umum PDPI Agus Dwi Susanto dalam konferensi pers Peringatan Hari Paru Sedunia (World Lung Day) yang diikuti secara daring di Jakarta, Jumat (24/9).
Dalam kesempatan itu, ia juga menyebut lima penyakit pernapasan yang paling besar dampaknya bagi sistem kesehatan yaitu PPOK, asma, infeksi saluran napas bawah akut, tuberkulosis (TB) dan kanker paru.
Pada penyakit asma, menurut dia, sekitar 334 juta penduduk dunia mengalami asma dan angka insidensinya selalu meningkat dalam tiga dekade terakhir.
"Terdapat sejumlah faktor yang dapat memicu munculnya asma yaitu faktor genetik, polusi udara, infeksi saluran napas pada masa kanak-kanak, faktor makanan dan paparan alergen lingkungan," katanya.
Baca Juga: