300 Tahun sebelum Banjir Besar Nabi Nuh: Orang Tajir Inilah yang Pertama Membangun Piramida
Miftah yusufpati
Rabu, 19 Maret 2025 - 17:00 WIB
Suraid memerintahkan pengikutnya untuk membangun piramida yang fondasinya sama dengan ukuran ketinggiannya. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Kisah ini terjadi jauh sebelum terjadinya banjir besar di era Nabi Nuh. Pada era itu, di kerajaan Mesir tidak ada yang lebih kaya daripada Suraid.
Sekitar 300 tahun sebelum terjadinya banjir besar, Suraid bermimpi dalam tidurnya seolah-olah langit runtuh menimpa bumi. Langit menjadi seperti jubah; bintang-bintang seolah-olah berjatuhan, dan matahari dan bulan begitu dekat dari bumi.
Dalam mimpi itu, dia melihat burung-burung putih menyambar manusia dan melemparkan mereka di antara dua gunung. Dunia seolah-olah menjadi hitam pekat dan manusia seolah-olah dikumpulkan dalam satu ladang mencari perlindungan.
Setelah melihat itu semua, dia terbangun dari tidurnya dengan penuh ketakutan. Pada pagi harinya, dia mengundang 100 orang dukun yang suka memberikan keputusan hanya dengan bintang dan thawali’ (sesuatu yang digunakan untuk ramalan baik oleh peramal).
Sejarawan Mesir yang paling penting pada zamannya, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” mengisahkan Suraid lalu menyepi bersama mereka dan menceritakan kepada mereka tentang mimpi yang dia alami.
Para dukun itu berkata, “Sesungguhnya mimpi baginda berasal dari langit. Mimpi itu memberitahu akan kehancuran seluruh alam dan seisi bumi.”
Suraid berkata kepada mereka, “Coba lihat dari bintang."
Sekitar 300 tahun sebelum terjadinya banjir besar, Suraid bermimpi dalam tidurnya seolah-olah langit runtuh menimpa bumi. Langit menjadi seperti jubah; bintang-bintang seolah-olah berjatuhan, dan matahari dan bulan begitu dekat dari bumi.
Dalam mimpi itu, dia melihat burung-burung putih menyambar manusia dan melemparkan mereka di antara dua gunung. Dunia seolah-olah menjadi hitam pekat dan manusia seolah-olah dikumpulkan dalam satu ladang mencari perlindungan.
Setelah melihat itu semua, dia terbangun dari tidurnya dengan penuh ketakutan. Pada pagi harinya, dia mengundang 100 orang dukun yang suka memberikan keputusan hanya dengan bintang dan thawali’ (sesuatu yang digunakan untuk ramalan baik oleh peramal).
Sejarawan Mesir yang paling penting pada zamannya, Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam buku yang diterjemahkan oleh Abdul Halim berjudul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” mengisahkan Suraid lalu menyepi bersama mereka dan menceritakan kepada mereka tentang mimpi yang dia alami.
Para dukun itu berkata, “Sesungguhnya mimpi baginda berasal dari langit. Mimpi itu memberitahu akan kehancuran seluruh alam dan seisi bumi.”
Suraid berkata kepada mereka, “Coba lihat dari bintang."