Kolom Ngabuburit Senja: Para Pencari Kebenaran
Tim langit 7
Sabtu, 22 Maret 2025 - 17:19 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Para Pencari Kebenaran
LANGIT7.ID-Sejak pra-Islam (zaman jahiliyah), di kalangan orang Arab yang suka berpikir, sudah biasa melakukan kontemplasi. Berkhalwat, mengasingkan diri ke tempat-tempat sunyi. Orang Arab menyebutnya tahannuts . Mereka merenung, berdoa, mengharapkan jawaban atas kegelisahan atau penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.
Di kalangan masyarakatnya, Muhammad adalah orang paling banyak berpikir (Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, 1984). Setiap Ramadhan, mendekati usia 40 tahun, Muhammad ber-tahannuts di Gua Hira, di celah sempit di tebing curam di Jabal Nur. Jarak rumah Muhammad ke Gua Hira sekitar 6 kilometer arah utara kota Mekkah. Muhammad tengah menapaki jalan spiritualnya.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Andai Saja Umar bin Abdul Aziz Orang Indonesia
Dalam kehidupan, Muhammad baik-baik saja. Hidup tenang bersama Khadijah, sosok pendamping dan penyokong utama. Mereka telah dkaruniahi anak-anak: Qasim, Abdullah, Zainab, Rukayyah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Namun, kesedihan menimpa Muhammad dan Khadijah ketika dua anak lelaki mereka meninggal. Orangtua mana yang tak sedih ditinggal dua anak lelaki.
Dalam tradisi Arab, anak lelaki adalah kebanggaan. Khadijah merasakan kepedihan mendalam. Ia pun membawa sesajen dan menyembelih hewan untuk berhala-berhala di Ka’bah: Hubal, Lata, Uzza, Manah. Seperti orang Quraisy umumnya, ia menebus musibah yang dialaminya. Namun, kurban-kurban itu tidak berguna sama sekali. Semua berhala tidak dapat memberi jawaban.
Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Berhala-berhala Modern
Di kalangan masyarakatnya, Muhammad adalah orang paling banyak berpikir (Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, 1984). Setiap Ramadhan, mendekati usia 40 tahun, Muhammad ber-tahannuts di Gua Hira, di celah sempit di tebing curam di Jabal Nur. Jarak rumah Muhammad ke Gua Hira sekitar 6 kilometer arah utara kota Mekkah. Muhammad tengah menapaki jalan spiritualnya.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Andai Saja Umar bin Abdul Aziz Orang Indonesia
Dalam kehidupan, Muhammad baik-baik saja. Hidup tenang bersama Khadijah, sosok pendamping dan penyokong utama. Mereka telah dkaruniahi anak-anak: Qasim, Abdullah, Zainab, Rukayyah, Ummu Kulsum, dan Fatimah. Namun, kesedihan menimpa Muhammad dan Khadijah ketika dua anak lelaki mereka meninggal. Orangtua mana yang tak sedih ditinggal dua anak lelaki.
Dalam tradisi Arab, anak lelaki adalah kebanggaan. Khadijah merasakan kepedihan mendalam. Ia pun membawa sesajen dan menyembelih hewan untuk berhala-berhala di Ka’bah: Hubal, Lata, Uzza, Manah. Seperti orang Quraisy umumnya, ia menebus musibah yang dialaminya. Namun, kurban-kurban itu tidak berguna sama sekali. Semua berhala tidak dapat memberi jawaban.
Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Berhala-berhala Modern