home masjid

Kolom Ngabuburit Senja: Poligami: Pembatasan Bukan Pembebasan

Senin, 24 Maret 2025 - 17:36 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Poligami: Pembatasan Bukan Pembebasan
LANGIT7.ID-Poligami! Satu kata ini amat menarik. Tetapi sekaligus kontroversial. Terkadang bermakna amelioratif tapi juga peyoratif. Tak heran, satu kata itu sering bikin orang berdebat tak selesai semalam suntuk. Paling prihatin sering dijadikan isu panas oleh pihak-pihak yang ingin mendiskreditkan Islam. Bahkan sejak lama dijadikan peluru oleh para orientalis menembaki Islam dan terlebih Nabi Muhammad secara personal. Isu poligami menjadi pintu masuk mereka mencerca nabi dengan tuduhan konyol, sarkas, menyakitkan: suka perempuan, maniak seks, pedofil, dan sebutan-sebutan sarkas lainnya. Tuduhan yang tak berdasar sama sekali.

Ketika sistem Islam sulit dicari celah kesalahannya, mereka menyasar personalitas nabi. Karena nabi menikah lebih dari seorang istri, lantas dituduh bahwa Islam dan nabi membolehkan poligami, yang diartikan sebagai bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Tiba-tiba kok Islam (dan tentu saja nabi) dijadikan sasaran tembak.

Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: La Tahzan, Jangan Bersedih!



Kita lihat sosio-historisnya. Sesungguhnya poligami adalah praktik yang sudah sangat tua, jauh sebelum Islam lahir pada abad ke-7. Peradaban-perabadan kuno sudah mempraktikkan poligami. Banyak istri bahkan gundik-gundik bertebaran sudah biasa di peradaban Mesir, Sumeria, Asyuria, sampai China. Nabi Ibrahim memiliki istri empat. Begitu juga Nabi Ya’kub, sang cucu, punya istri empat. Nabi Daud juga banyak istri. Anaknya, Nabi Sulaiman lebih banyak lagi. Sulaiman (Salomo) memiliki 700 istri dan 300 gundik (1 Raja-raja 11: 3). Rehabeam, anak Salomo, punya 18 istri dan 60 gundik (2 Tawarikh 11; 21).

Di Arab pra-Islam juga sama. Terutama kepala-kepala suku (kabilah) semuanya beristri banyak. Karena, kekuatan sebuah kabilah bergantung jumlah masyarakatnya. Semakin banyak jumlahnya semakin kuat. Kala itu perang antarsuku menjadi ruang perebutan kekuasaan. Karena adu otot, makin besar jumlah orangnya makin berpeluang menang dan menjadi pemegang kuasa di tanah gurun. Di China, justru jauh setelah Islam, salah satu kaisarnya, yaitu Kaisar Kanxi (1654-1722) dari Dinasti Qing memiliki istri dan selir sampai 3.000 orang. Sekarang ini, praktik poligami mudah ditemukan di Afrika Sub-Sahara.

Baca juga:Kolom Ngabuburit Senja: Para Pencari Kebenaran
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya