Kolom Ngabuburit Senja: Ketika Mulut Terkunci
Tim langit 7
Jum'at, 28 Maret 2025 - 17:27 WIB
Kolom Ngabuburit Senja: Ketika Mulut Terkunci
LANGIT7.ID-Sembari ngabuburit, saya mendengarkan suara merdu Chrisye. Lagu lawas edisi tahun 1997. Judulnya Ketika Tangan dan Kaki Bicara, yang liriknya ditulis penyair Taufiq Ismail. Sambil mendengarkan, menyimak pelan-pelan liriknya: Akan datang hari/Mulut dikunci/Kata tak ada lagi/Akan tiba masa/Tak ada suara/Dari mulut kita/Berkata tangan kita/Tentang apa yang dilakukannya/Berkata kaki kita/Ke mana saja dia melangkahnya… Mendengarkan lagu itu ketika berpuasa serasa makin menyesapkan suasana Ramadhan ke dalam hati.
Sesaat lagu itu membuat tertunduk, seakan tak mampu mendongakkan kepala lagi. Begitu menyentuh, menyibakkan hakikat manusia sebagai hamba Tuhan. Hari-hari ini, betapa lisan menjadi kekuatan yang dapat membunuh manusia, membuat kerusakan di muka bumi. Di era digital, lisan seperti mendapatkan panggung yang penuh lampu sorot. Dunia kita hari-hari ini, dengan media sosial di genggaman, terasa penuh dengan jelaga hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, fitnah, komentar-komentar negatif. Lisan bak mitraliur yang melontarkan peluru kata-kata ke segala penjuru.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Yahudi Juga Manusia
Namun, ingat, suatu saat nanti, lisan akan terbungkam. Lisan yang selalu berdalih dengan sejuta alasan, tak bisa lagi berkata-kata. Semua kata yang dirangkai indah, tak berguna lagi.. Lisan tak mampu berargumentasi lagi. Lisan tak bisa mengadvokasi atas semua yang diucapkan. Ketika kita kembali ke hadapan Allah, Sang Maha Pencipta, lisan kita membisu. Terkunci! Tidak bisa lagi bersilat lidah. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan-tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Yasin: 65). Tak terasa mata berkaca-kaca membaca ayat yang menginspirasi terciptanya lagu di atas.
Menjaga lisan lantas teringat pelajaran dari seorang Luqman, yang sosoknya diabadikan dalam Al-Quran surat ke-31, yaitu Surat Luqman. Nama Luqman di-mention dua kali oleh Allah, ayat 12 dan 13. Luqman bukan seorang nabi, tetapi sosok dan kelimuannya menjadi panutan. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan Luqman bin Anqa, bertubuh pendek, berkulit hitam, berhidung lebar, bibirnya tebal, kakinya lebar. Diduga berasal dari Nubia (sekarang Sudan) atau Habasyah (sekitar Ethiopia dan Eritrea), ada juga versi dari Yordania. Profesinya banyak versi. Disebut tukang kayu, penggembala kambing, hingga kadi (hakim).
Sesaat lagu itu membuat tertunduk, seakan tak mampu mendongakkan kepala lagi. Begitu menyentuh, menyibakkan hakikat manusia sebagai hamba Tuhan. Hari-hari ini, betapa lisan menjadi kekuatan yang dapat membunuh manusia, membuat kerusakan di muka bumi. Di era digital, lisan seperti mendapatkan panggung yang penuh lampu sorot. Dunia kita hari-hari ini, dengan media sosial di genggaman, terasa penuh dengan jelaga hoaks, ujaran kebencian, cyberbullying, fitnah, komentar-komentar negatif. Lisan bak mitraliur yang melontarkan peluru kata-kata ke segala penjuru.
Baca juga: Kolom Ngabuburit Senja: Yahudi Juga Manusia
Namun, ingat, suatu saat nanti, lisan akan terbungkam. Lisan yang selalu berdalih dengan sejuta alasan, tak bisa lagi berkata-kata. Semua kata yang dirangkai indah, tak berguna lagi.. Lisan tak mampu berargumentasi lagi. Lisan tak bisa mengadvokasi atas semua yang diucapkan. Ketika kita kembali ke hadapan Allah, Sang Maha Pencipta, lisan kita membisu. Terkunci! Tidak bisa lagi bersilat lidah. “Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan-tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. Yasin: 65). Tak terasa mata berkaca-kaca membaca ayat yang menginspirasi terciptanya lagu di atas.
Menjaga lisan lantas teringat pelajaran dari seorang Luqman, yang sosoknya diabadikan dalam Al-Quran surat ke-31, yaitu Surat Luqman. Nama Luqman di-mention dua kali oleh Allah, ayat 12 dan 13. Luqman bukan seorang nabi, tetapi sosok dan kelimuannya menjadi panutan. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, disebutkan Luqman bin Anqa, bertubuh pendek, berkulit hitam, berhidung lebar, bibirnya tebal, kakinya lebar. Diduga berasal dari Nubia (sekarang Sudan) atau Habasyah (sekitar Ethiopia dan Eritrea), ada juga versi dari Yordania. Profesinya banyak versi. Disebut tukang kayu, penggembala kambing, hingga kadi (hakim).