Baret Merah dan Harga Sebuah Kehormatan: Saat Purnawirawan TNI Murka karena Simbol Militer Dipakai Ormas
Tim langit 7
Kamis, 01 Mei 2025 - 20:27 WIB
Baret Merah dan Harga Sebuah Kehormatan: Saat Purnawirawan TNI Murka karena Simbol Militer Dipakai Ormas
LANGIT7.ID-Jakarta;Simbol kehormatan bagi prajurit elite TNI kembali menjadi sorotan setelah pernyataan tajam dari Letjen (Purn) Sutiyoso mengenai atribut organisasi kemasyarakatan (ormas) yang menyerupai militer. Mantan Gubernur Jakarta itu secara terbuka mendukung revisi Undang-Undang Ormas karena merasa gerah dengan perilaku ormas yang menurutnya semakin menyerupai pasukan militer dalam hal pakaian dan sikap.
“Bahwa saya sangat endukung Pak Tito Mendagri mau merevisi UU Ormas ini. Bukan tingkah laku mereka saja yang harus dievaluasi, tapi juga cara berpakaian,” ujar Sutiyoso, Minggu (27/4/2025).
Lebih lanjut, dia menyoroti penggunaan atribut seperti baret merah oleh ormas. “Pasukan khusus, misalnya, bagaimana kita itu untuk mendapatkan baret merah, enam bulan latihannya. Dari Batujajar, ke gunung hutan, jalan 10 hari ke Cilacap, ke Nusakambangan pakai baret merah, tahu-tahu dipakai ormas-ormas ini, kita sangat kecewa lah,” tandasnya.
Ucapan ini memicu reaksi keras dari Ketua Umum Grib Jaya, Rosario de Marshall atau yang dikenal dengan nama Hercules. Dalam pernyataannya, Hercules mengecam balik Sutiyoso dan melontarkan hinaan secara langsung. “Kayak pak Sutiyoso itu ngapain, pak Sutiyoso itu nggak usahlah menyinggung ormas. Sudahlah, kalau saya bilang mulutmu sudah bau tanah. Enggak usah nyinggung-nyinggung kita (Grib Jaya),” ucap Hercules, Selasa (29/4/2025).
Komentar itu sontak membuat marah sejumlah tokoh militer, termasuk Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Dalam siaran yang tayang secara daring pada Kamis (1/5/2025), Gatot meluapkan kemarahannya terhadap Hercules dan menilai bahwa ormas Grib Jaya hanya berkedok sebagai organisasi legal, padahal sejatinya hanyalah kelompok preman. “Kamu (Hercules) itu kan preman, memakai pakaian (berkedok) ormas,” geram Gatot Nurmantyo.
Ia menilai penghinaan terhadap Sutiyoso tidak hanya menyentuh pribadi, tetapi juga merendahkan para purnawirawan TNI yang selama ini berjuang mempertahankan kehormatan institusi militer. “Hei, kau juga menghina presiden saya. Presiden Prabowo itu Komandan Jenderal Kopassus, Pangkostrad presiden saya, kau bilang bau-bau tanah lagi, saya juga bau bau tanah, yang sopan bicara,” beber Gatot.
Tak berhenti di situ, Gatot juga mengungkit praktik dukungan ormas terhadap calon kepala daerah dalam Pilkada, yang menurutnya menyesatkan. Ia menyoroti pernyataan Grib Jaya yang lebih mementingkan loyalitas calon kepada ormas ketimbang kepada rakyat. “Di Jawa Barat mengatakan kalau ingin didukung oleh Grib, pertama mencintai dulu Grib, baru mencintai rakyat. Pakai dong otakmu. Gubernur, bupati, walikota itu harus mencintai rakyat dulu karena yang milih rakyat, bukan grib. Preman itu,” tegasnya.
“Bahwa saya sangat endukung Pak Tito Mendagri mau merevisi UU Ormas ini. Bukan tingkah laku mereka saja yang harus dievaluasi, tapi juga cara berpakaian,” ujar Sutiyoso, Minggu (27/4/2025).
Lebih lanjut, dia menyoroti penggunaan atribut seperti baret merah oleh ormas. “Pasukan khusus, misalnya, bagaimana kita itu untuk mendapatkan baret merah, enam bulan latihannya. Dari Batujajar, ke gunung hutan, jalan 10 hari ke Cilacap, ke Nusakambangan pakai baret merah, tahu-tahu dipakai ormas-ormas ini, kita sangat kecewa lah,” tandasnya.
Ucapan ini memicu reaksi keras dari Ketua Umum Grib Jaya, Rosario de Marshall atau yang dikenal dengan nama Hercules. Dalam pernyataannya, Hercules mengecam balik Sutiyoso dan melontarkan hinaan secara langsung. “Kayak pak Sutiyoso itu ngapain, pak Sutiyoso itu nggak usahlah menyinggung ormas. Sudahlah, kalau saya bilang mulutmu sudah bau tanah. Enggak usah nyinggung-nyinggung kita (Grib Jaya),” ucap Hercules, Selasa (29/4/2025).
Komentar itu sontak membuat marah sejumlah tokoh militer, termasuk Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo. Dalam siaran yang tayang secara daring pada Kamis (1/5/2025), Gatot meluapkan kemarahannya terhadap Hercules dan menilai bahwa ormas Grib Jaya hanya berkedok sebagai organisasi legal, padahal sejatinya hanyalah kelompok preman. “Kamu (Hercules) itu kan preman, memakai pakaian (berkedok) ormas,” geram Gatot Nurmantyo.
Ia menilai penghinaan terhadap Sutiyoso tidak hanya menyentuh pribadi, tetapi juga merendahkan para purnawirawan TNI yang selama ini berjuang mempertahankan kehormatan institusi militer. “Hei, kau juga menghina presiden saya. Presiden Prabowo itu Komandan Jenderal Kopassus, Pangkostrad presiden saya, kau bilang bau-bau tanah lagi, saya juga bau bau tanah, yang sopan bicara,” beber Gatot.
Tak berhenti di situ, Gatot juga mengungkit praktik dukungan ormas terhadap calon kepala daerah dalam Pilkada, yang menurutnya menyesatkan. Ia menyoroti pernyataan Grib Jaya yang lebih mementingkan loyalitas calon kepada ormas ketimbang kepada rakyat. “Di Jawa Barat mengatakan kalau ingin didukung oleh Grib, pertama mencintai dulu Grib, baru mencintai rakyat. Pakai dong otakmu. Gubernur, bupati, walikota itu harus mencintai rakyat dulu karena yang milih rakyat, bukan grib. Preman itu,” tegasnya.