Rasululloh Pun Pernah Marah. Seperti Apa Marahnya Rasululloh?
Tim langit 7
Selasa, 20 Mei 2025 - 21:05 WIB
Rasululloh Pun Pernah Marah. Seperti Apa Marahnya Rasululloh?
LANGIT7.ID-Yogyakarta; "Hampir tidak ada yang di ruangan ini yang tidak pernah marah," kata penceramah Andi Suseno dari Majelis Tarjih Muhammadiyah Yogya saat mengawali ceramahnya ahad pagi di
Masjid Islam Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Suseno, menggambarkan bahwa marah sebagai kondisi emosional yang alami dan dialami oleh setiap orang. “Hampir tidak ada di ruangan ini yang tidak pernah marah,” ujarnya, disambut tawa jemaah.
Ia menjelaskan bahwa marah bisa dipicu oleh faktor eksternal seperti kekecewaan, ketidakadilan, atau ancaman, tetapi juga bisa muncul dari dalam diri, seperti perubahan emosi akibat siklus biologis atau faktor genetik. Namun, sebagai umat Islam, marah tidak boleh dibiarkan menguasai diri, melainkan harus dikelola dengan bijak sesuai ajaran Rasulullah Saw.
Menariknya, Andi mengungkap bahwa Rasulullah Saw juga pernah marah, namun amarahnya selalu terkendali dan hanya muncul terkait kehormatan Allah atau pelanggaran agama. Ia merujuk pada beberapa riwayat hadis, seperti ketika Rasulullah menegur Mu’adz bin Jabal yang membaca surah terlalu panjang saat mengimami salat, sehingga memberatkan jemaah.
“Nabi bertanya, ‘Wahai Mu’adz, apakah kamu ingin menjadikan agama ini sebagai fitnah?’” ujar Andi, seraya menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi jemaah dalam beribadah.
Rasulullah Saw, lanjut Andi, memberikan teladan melalui sabdanya: إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ (“Saya manusia biasa, saya marah sebagaimana manusia lainnya marah,” H.R. Ahmad). Namun, amarah Nabi selalu terarah pada kebaikan, bukan urusan pribadi.
Masjid Islam Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Suseno, menggambarkan bahwa marah sebagai kondisi emosional yang alami dan dialami oleh setiap orang. “Hampir tidak ada di ruangan ini yang tidak pernah marah,” ujarnya, disambut tawa jemaah.
Ia menjelaskan bahwa marah bisa dipicu oleh faktor eksternal seperti kekecewaan, ketidakadilan, atau ancaman, tetapi juga bisa muncul dari dalam diri, seperti perubahan emosi akibat siklus biologis atau faktor genetik. Namun, sebagai umat Islam, marah tidak boleh dibiarkan menguasai diri, melainkan harus dikelola dengan bijak sesuai ajaran Rasulullah Saw.
Menariknya, Andi mengungkap bahwa Rasulullah Saw juga pernah marah, namun amarahnya selalu terkendali dan hanya muncul terkait kehormatan Allah atau pelanggaran agama. Ia merujuk pada beberapa riwayat hadis, seperti ketika Rasulullah menegur Mu’adz bin Jabal yang membaca surah terlalu panjang saat mengimami salat, sehingga memberatkan jemaah.
“Nabi bertanya, ‘Wahai Mu’adz, apakah kamu ingin menjadikan agama ini sebagai fitnah?’” ujar Andi, seraya menekankan pentingnya mempertimbangkan kondisi jemaah dalam beribadah.
Rasulullah Saw, lanjut Andi, memberikan teladan melalui sabdanya: إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ (“Saya manusia biasa, saya marah sebagaimana manusia lainnya marah,” H.R. Ahmad). Namun, amarah Nabi selalu terarah pada kebaikan, bukan urusan pribadi.