Imam Al-Ghazali: Cinta Adalah Benih Kebahagiaan, dan Cinta kepada Allah Dikembangkan oleh Ibadah
Miftah yusufpati
Rabu, 04 Juni 2025 - 04:15 WIB
Ibadah dan zikir yang terus-menerus seperti itu mengisyaratkan suatu tingkat tertentu dari keprihatinan dan pengekangan nafsu-nafsu badaniah. Ilustrasi: My Islam Guide
LANGIT7.ID-Imam al-Ghazali mengatakan kita bisa berkata bahwa Allah lebih besar dari penciptaan, karena penciptaan adalah pengejawantahan-Nya, sebagaimana cahaya adalah pengejawantahan matahari.
"Dan akan tidak benar kalau dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya sendiri," tutur Imam Al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Hal itu lebih berarti bahwa kebesaran Allah sama sekali melampaui kemampuan kognitif dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentang-Nya.
A-Ghazali mencontohkan jika seorang anak meminta kita untuk menerangkan padanya kesenangan-kesenangan yang ada di dalam pemilikan kedaulatan, kita bisa berkata bahwa hal itu adalah seperti kesenangan-kesenangan yang ia rasakan di dalam bermain-main dengan alat pemukul dan bola, meskipun pada hakikatnya keduanya tidak memiliki sesuatu yang sama kecuali bahwa keduanya termasuk ke dalam katagori kesenangan.
"Jadi, seruan Allahu akbar berarti bahwa kebesaran-Nya jauh melampaui kemampuan pemahaman kita," terangnya.
Baca juga: Imam al-Ghazali: Tuhan Menjadikan Kita sebagai Seorang Raja dalam Miniatur
Lagi pula, pengetahuan tentang Allah yang tidak sempurna seperti itu - sebagaimana yang bisa kita peroleh - bukanlah sekadar suatu pengetahuan spekulatif belaka, tetapi mesti dibarengi dengan penyerahan dan ibadah.
"Dan akan tidak benar kalau dikatakan bahwa matahari lebih besar dari cahayanya sendiri," tutur Imam Al-Ghazali dalam bukunya berjudul "The Alchemy of Happiness" yang diterjemahkan Haidar Bagir menjadi "Kimia Kebahagiaan" (Mizan, 1979).
Hal itu lebih berarti bahwa kebesaran Allah sama sekali melampaui kemampuan kognitif dan bahwa kita hanya bisa membentuk suatu gagasan yang amat kabur dan tidak sempurna tentang-Nya.
A-Ghazali mencontohkan jika seorang anak meminta kita untuk menerangkan padanya kesenangan-kesenangan yang ada di dalam pemilikan kedaulatan, kita bisa berkata bahwa hal itu adalah seperti kesenangan-kesenangan yang ia rasakan di dalam bermain-main dengan alat pemukul dan bola, meskipun pada hakikatnya keduanya tidak memiliki sesuatu yang sama kecuali bahwa keduanya termasuk ke dalam katagori kesenangan.
"Jadi, seruan Allahu akbar berarti bahwa kebesaran-Nya jauh melampaui kemampuan pemahaman kita," terangnya.
Baca juga: Imam al-Ghazali: Tuhan Menjadikan Kita sebagai Seorang Raja dalam Miniatur
Lagi pula, pengetahuan tentang Allah yang tidak sempurna seperti itu - sebagaimana yang bisa kita peroleh - bukanlah sekadar suatu pengetahuan spekulatif belaka, tetapi mesti dibarengi dengan penyerahan dan ibadah.