LANGIT7.ID-, Jakarta - -
Menteri Koperasi Indonesia
Ferry Juliantono resmi membuka Program Membina dan Memberdaya (Mba Maya) Tahun 2026 dari
PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Ia pun memberi apresiasi atas program yang membawa dampak besar bagi perempuan pelaku usaha mikro.
"Saya menyatakan apresiasi pada keluarga besar
PNM yang bisa membawa program ini membawa dampak besar, khususnya kaum ibu-ibu. Tanpa PNM, mungkin pemberdayaan perempuan sulit dilakukan apalagi saat ini (PNM) skalanya sudah belasan juta," kata Menteri Ferry dalam sambutannya saat pembukaan acara Membina dan Memberdaya 2026:
Usaha Berkah dalam Bingkai Ekonomi Syariah, Rabu (6/5/2026).
Mba Maya merupakan program pelatihan dan pendampingan usaha dari
PT PNM untuk nasabah Mekaar, khususnya Ketua Kelompok. Program ini fokus meningkatkan literasi keuangan, usaha, dan digital untuk memperkuat UMKM, kepemimpinan, serta komunikasi ibu-ibu pelaku usaha ultra mikro.
Baca juga: PNM Buka Program Sertifikasi Halal untuk 100 UMKM BanyuwangiNasabah Mekaar sendiri adalah perempuan prasejahtera pelaku usaha ultra mikro yang menerima layanan modal usaha tanpa agunan, pendampingan, dan pelatihan dari
PT PNM. Nasabah ini umumnya ibu-ibu yang ingin memulai atau mengembangkan usaha secara berkelompok. Nasabah Mekaar wajib mengikuti pertemuan mingguan dan bertanggung jawab renteng dalam kelompoknya.
Pada kesempatan yang sama, Ferry mengatakan dalam waktu dekat
Presiden Prabowo Subianto bakal meresmikan peluncuran
Koperasi Merah Putih.
"Presiden akan launching pada 18 Mei, seribuan
Koperasi Merah Putih yang selesai dibangun secara fisik. Kemudian 30 ribuan bulan depan selesai dibangun fisik, gudang dan kelengkapannya. Sekarang kita selesaikan tahap operasionalnya," ujarnya.
Baca juga: Apakah Koperasi Merah Putih Akan Menjadi Harapan Bagi Usaha Mikro dan Ultra Mikro?Ia menjelaskan antara
Koperasi Merah Putih dengan program-program nasabah Mekaar yang ada di daerah bisa diintegrasikan, mengingat antara keduanya memiliku semangat dan fungsi yang sama.
"Fungsi pertama menyalurkan kebutuhan pokok sehari-hari dan barang-barang bersubsidi ke masyarakat. Fungsi kedua,
offtaker yaitu menyerap hasil produk masyarakat desa-desa dan kelurahan misalnya hasil tanaman pangan, perternakan, perkebunan. Ketiga, instrument terbawah menyalurkan program-program pusat, BLT, bansos dan sebagainya supaya lebih tepat sasaran," jelas dia.
Menteri Koperasi yang juga menjabat Ketua Harian PP Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) ini menambahkna, untuk fungsi kedua, yakni
offtaker pada kenyataannya masih mengalami kekosongan. Ia mencontohkan untuk menyerap gabah kering, petani kita tidak banyak memiliki pengering (dryer) di desa-desa.
"Kita akan mengusahakan bagaimana dryer ini bisa ada di desa-desa. Yang terjadi sekarang penggilingan beras kita kesulitan mendapatkan barang baku," ucapnya.
Contoh lainnya, desa yang produksi buahnya bagus tapi tidak ada pengatur suhu sayuran dan buah yang bagus. INi membuat harga buah dan sayur langsung jatuh. "Makanya Koperasi Desa Merah Putih melengkapi kegiatan dengan pengadaan mesin," tutur Ferry.
Baca juga: Purbaya Dorong PNM Jadi Bank UMKM, Harapan Baru untuk Pemerataan Ekonomi IndonesiaKemudian di sektor perikanan, masih banyak desa kelurahan yang tidak ada memiliki pabrik es batu, SPBU Solar, listrik dan internet. Padahal sangat membutuhkan semua itu.
"Soal sederhana ini bisa diselesaikan dengan kolaborasi, menyatukan dan mensinergikan kekuatan misal PNM dan Koperasi Desa. Kegiatan seperti yang dimiliki PNM dan Koperasi Desa bisa bikin ekosistem bareng, sesuai program Asta Cita keenam yaitu membangun dari bawah," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT PNM, Arief Mulyadi dalam pidato pembukaan menyatakan harapannya supaya program Mba Maya ini berjalan lancar dan memberi banyak manfaatnya.
"Semoga niat dan cita-cita mulia ini dipermudah dan dilancarkan dan dilindungi Allah sehingga semakin besar manfaatnya," imbuhnya.
(lsi)