3 Laki-Laki Spanyol Ini 7 Bulan di Punggung Kuda Menuju Tanah Suci
Miftah yusufpati
Sabtu, 07 Juni 2025 - 17:25 WIB
Dari kiri: Abdallah Rafael Hernandez Mancha, Tarek Rodriguez dan Abdelkader Harkassi bersama kuda mereka di kota Konya, Turki. MEE
LANGIT7.ID-Suara langkah kuda membelah senyap dataran Anatolia, menyusuri jalan-jalan berdebu yang pernah dilalui ribuan peziarah berabad-abad lalu. Di atas pelana, Abdallah Rafael Hernández Mancha membisikkan doa yang ia simpan sejak 1989: sebuah janji sunyi yang akhirnya ditebus.
Tujuh bulan lalu, Abdallah Rafael Hernández Mancha, mantan guru dari Huelva, Spanyol selatan, memasang pelana pada kuda Arab betina dan meninggalkan rumahnya menuju Makkah. Bersama dua sahabat, Abdelkader Harkassi dan Tarek Rodríguez, mereka memulai perjalanan menunaikan ibadah haji layaknya para peziarah Andalusia zaman pertengahan: dengan menunggang kuda, menempuh ribuan kilometer melintasi Eropa, Balkan, dan Timur Tengah.
“Dulu saya bilang, kalau lulus ujian pegawai negeri, saya akan masuk Islam,” kata Hernández kepada Middle East Eye. “Dan setelah itu, saya janji akan ke Makkah naik kuda.”
Ia menepati dua-duanya. Tiga puluh lima tahun berselang, janji itu menjelma ekspedisi lintas benua. Dari Almonaster la Real—kota kecil dengan sisa-sisa masjid abad ke-10, mereka berangkat tanpa sponsor, tanpa pendanaan, hanya dengan lima ekor kuda Arab dan niat baja.
Baca juga: Geger Visa Furoda: Travel Rugi Miliar, Wendi Cagur hingga Ruben Onsu Gagal Naik Haji
Perjalanan Zaman Lampau di Dunia Modern
Di Abad Pertengahan, para Muslim dari Andalusia menulis Rihla, catatan perjalanan spiritual menuju Makkah yang melampaui sekadar ziarah. Ia adalah perjumpaan budaya, pelajaran hidup, sekaligus penaklukan diri.
Tujuh bulan lalu, Abdallah Rafael Hernández Mancha, mantan guru dari Huelva, Spanyol selatan, memasang pelana pada kuda Arab betina dan meninggalkan rumahnya menuju Makkah. Bersama dua sahabat, Abdelkader Harkassi dan Tarek Rodríguez, mereka memulai perjalanan menunaikan ibadah haji layaknya para peziarah Andalusia zaman pertengahan: dengan menunggang kuda, menempuh ribuan kilometer melintasi Eropa, Balkan, dan Timur Tengah.
“Dulu saya bilang, kalau lulus ujian pegawai negeri, saya akan masuk Islam,” kata Hernández kepada Middle East Eye. “Dan setelah itu, saya janji akan ke Makkah naik kuda.”
Ia menepati dua-duanya. Tiga puluh lima tahun berselang, janji itu menjelma ekspedisi lintas benua. Dari Almonaster la Real—kota kecil dengan sisa-sisa masjid abad ke-10, mereka berangkat tanpa sponsor, tanpa pendanaan, hanya dengan lima ekor kuda Arab dan niat baja.
Baca juga: Geger Visa Furoda: Travel Rugi Miliar, Wendi Cagur hingga Ruben Onsu Gagal Naik Haji
Perjalanan Zaman Lampau di Dunia Modern
Di Abad Pertengahan, para Muslim dari Andalusia menulis Rihla, catatan perjalanan spiritual menuju Makkah yang melampaui sekadar ziarah. Ia adalah perjumpaan budaya, pelajaran hidup, sekaligus penaklukan diri.