home masjid

Kisah Ratu Balqis Bersimpuh: Dari Kemewahan Menuju Ketundukan

Ahad, 22 Juni 2025 - 05:15 WIB
Keangkuhan bisa luruh, dan sujud sejati hanya untuk Tuhan, bukan kepada cahaya yang terbit dari timur. Ilustrasi: Ist
LAGIT7.ID-Burung Hud-hudterbang rendah di atas istana megah di negeri Saba. Kilau singgasana membutakan mata. Namun bukan itu yang membuat burung kecil itu segera kembali menghadap Nabi Sulaiman. Di istana itulah ia menyaksikan pemandangan yang menggetarkan: seorang ratu dan rakyatnya bersujud… kepada matahari.

Di Tanah Suci, Nabi Sulaiman tengah marah. Burung pengintainya menghilang dari barisan tugas. Tapi begitu Hud-hud menyampaikan temuannya, murka sang nabi seketika berubah jadi misi kerasulan. Ia menulis sepucuk surat. Isinya sederhana tapi mengguncang: "Datanglah kepadaku dengan berserah diri."

Surat itu dilemparkan dari udara ke tengah istana. Ratu Balqis, sang pemilik takhta bersulam permata, terperanjat. Ia panggil para penasihatnya. Tapi para pembesar Saba hanya bisa menawarkan satu hal: perang.

Balqis bergeming. "Kekuasaan bisa jatuh bersama batu-batu istana yang luluh lantak oleh perang," katanya. Maka ia kirimkan upeti: emas, permata, dan hadiah istana—coba-coba membeli hati Sulaiman.

Namun jawaban yang ia terima jauh dari lembut: "Kekuasaan yang aku punya meliputi jin, manusia, dan binatang. Bumi tak cukup luas untuk menampung bala tentaraku. Aku bukan raja yang bisa disilaukan."

Baca juga: Kisah Rebutan Tahta di Kerajaan Daud, Kakak Nabi Sulaiman Melakukan Kudeta

Ratu Balqis akhirnya memutuskan: datang dan berserah diri. Tapi sebelum kakinya menginjak istana Nabi Sulaiman, singgasananya telah lebih dulu tiba. Dalam sekejap, takhta dari Saba itu hadir di hadapan Sulaiman. Jin cerdik membawanya melampaui logika ruang dan waktu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya