LAGIT7.ID-
Burung Hud-hud terbang rendah di atas istana megah di negeri Saba. Kilau singgasana membutakan mata. Namun bukan itu yang membuat burung kecil itu segera kembali menghadap
Nabi Sulaiman. Di istana itulah ia menyaksikan pemandangan yang menggetarkan: seorang ratu dan rakyatnya bersujud… kepada matahari.
Di Tanah Suci, Nabi Sulaiman tengah marah. Burung pengintainya menghilang dari barisan tugas. Tapi begitu Hud-hud menyampaikan temuannya, murka sang nabi seketika berubah jadi misi kerasulan. Ia menulis sepucuk surat. Isinya sederhana tapi mengguncang: "Datanglah kepadaku dengan berserah diri."
Surat itu dilemparkan dari udara ke tengah istana. Ratu Balqis, sang pemilik takhta bersulam permata, terperanjat. Ia panggil para penasihatnya. Tapi para pembesar Saba hanya bisa menawarkan satu hal: perang.
Balqis bergeming. "Kekuasaan bisa jatuh bersama batu-batu istana yang luluh lantak oleh perang," katanya. Maka ia kirimkan upeti: emas, permata, dan hadiah istana—coba-coba membeli hati Sulaiman.
Namun jawaban yang ia terima jauh dari lembut: "Kekuasaan yang aku punya meliputi jin, manusia, dan binatang. Bumi tak cukup luas untuk menampung bala tentaraku. Aku bukan raja yang bisa disilaukan."
Baca juga: Kisah Rebutan Tahta di Kerajaan Daud, Kakak Nabi Sulaiman Melakukan Kudeta Ratu Balqis akhirnya memutuskan: datang dan berserah diri. Tapi sebelum kakinya menginjak istana Nabi Sulaiman, singgasananya telah lebih dulu tiba. Dalam sekejap, takhta dari Saba itu hadir di hadapan Sulaiman. Jin cerdik membawanya melampaui logika ruang dan waktu.
Tatkala ia memasuki balairung istana Sulaiman, lantainya sebening air. Ia sempat menyingsingkan kain, menyangka hendak melintasi kolam. Tapi ternyata itu kaca. Sulaiman tersenyum, lalu berkata, “Bukan air, ini kaca.”
Balqis, ratu yang sebelumnya menyembah matahari, tak kuasa lagi menyangkal. Ia berkata dengan tunduk: “Ya Tuhanku, sungguh aku telah menzalimi diriku sendiri. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”
Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an, Surat An-Naml ayat 41–44. Namun bagi sebagian ahli sejarah, ini bukan sekadar kisah tentang dakwah. Ini juga potret tentang kekuasaan, diplomasi, dan keajaiban—tentang bagaimana agama dibawa bukan dengan pedang, melainkan dengan kaca bening dan surat yang merendahkan ego.
Menurut beberapa tafsir, Sulaiman akhirnya menikahi Balqis. Dari pernikahan dua pemimpin besar itu lahirlah seorang putra. Tapi yang abadi bukanlah garis keturunan, melainkan pelajaran bahwa keangkuhan bisa luruh, dan sujud sejati hanya untuk Tuhan, bukan kepada cahaya yang terbit dari timur.
Baca juga:
Surat An-Naml Ayat 19: Doa Nabi Sulaiman yang Diabadikan Dalam Al-Qur'an(mif)