home global news

Islam Bangkit Jadi Kekuatan Global Baru dalam Gerakan Penyelamatan Lingkungan

Kamis, 17 Juli 2025 - 10:55 WIB
Islam Bangkit Jadi Kekuatan Global Baru dalam Gerakan Penyelamatan Lingkungan
LANGIT7.ID–Jakarta;Di tengah meningkatnya keresahan dunia terhadap krisis iklim, ajaran Islam mulai tampil sebagai sumber nilai yang kuat dalam menginspirasi perubahan. Hal itu tercermin jelas dalam forum International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 yang berlangsung di Jakarta pada 14–16 Juli 2025. Penutupan konferensi ini ditandai dengan pembacaan Risalah Ekoteologi, dokumen spiritual yang mencerminkan sikap Islam terhadap penyelamatan bumi.

Risalah tersebut dibacakan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Arsad Hidayat. Di hadapan para peserta, ia menyampaikan bahwa kepedulian terhadap alam tidak hanya berdimensi etis, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah. "Risalah ini mengingatkan kita bahwa menjaga bumi bukan hanya kewajiban etis, tetapi juga ibadah. Ini adalah amanah dari Allah Swt. yang harus kita tunaikan bersama," ujar Arsad dalam keterangannya, dikutip Kamis (17/7/2025)

Dalam konteks global, deklarasi semacam ini menjadi sinyal penting. Bahwa Islam, dengan seluruh nilai teologis dan warisan spiritualnya, kini mulai mengambil posisi penting dalam arus utama gerakan lingkungan dunia. Konferensi ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum yang menandai kebangkitan peran agama sebagai aktor transformatif dalam isu keberlanjutan.

Risalah Ekoteologi yang lahir dari konferensi ini memuat enam butir utama. Salah satunya adalah penegasan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW telah lama memuat ajaran ekologis yang kuat. Manusia dijelaskan sebagai khalifah, bukan penguasa absolut yang bebas merusak. Prinsip keadilan lingkungan, larangan perusakan (fasad), serta teladan Nabi dalam memperlakukan makhluk hidup menjadi dasar etika ekologis Islam. "Islam tidak pernah mengajarkan eksploitasi terhadap alam. Justru sebaliknya, kita diajarkan merawat dan menyeimbangkan kehidupan," kata Arsad.

Lebih jauh, para peserta konferensi sepakat bahwa pendidikan Islam harus menjadi tempat strategis dalam menanamkan nilai ekologi. Dari pesantren hingga kampus Islam, kurikulum perlu memuat ekoteologi sebagai nilai pokok. Kegiatan keagamaan pun diarahkan untuk membentuk kesadaran spiritual akan pentingnya menjaga alam.

Tak hanya itu, kontribusi Islam juga dirumuskan dalam bentuk kerangka etika yang bisa bersanding dengan gerakan keadilan iklim global. Nilai-nilai seperti tawazun (keseimbangan), maslahah (kemaslahatan bersama), dan ukhuwwah insaniyyah (solidaritas manusia) dianggap sebagai prinsip yang dapat menjembatani kerja sama lintas iman dan lintas sektor. Dalam forum tersebut, Arsad menegaskan, "Dialog lintas iman adalah strategi teologis dalam merawat bumi sebagai rumah bersama, bukan milik satu kelompok."

Konferensi ini juga menyoroti peran penting gerakan lokal berbasis Islam, seperti pesantren hijau dan komunitas Muslim peduli lingkungan, sebagai contoh nyata implementasi spiritualitas ekologis. Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga praktik yang bisa diperluas sebagai model global.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya