LANGIT7.ID–Jakarta; Di tengah meningkatnya keresahan dunia terhadap krisis iklim, ajaran Islam mulai tampil sebagai sumber nilai yang kuat dalam menginspirasi perubahan. Hal itu tercermin jelas dalam forum International Conference on Islamic Ecotheology for the Future of the Earth (ICIEFE) 2025 yang berlangsung di Jakarta pada 14–16 Juli 2025. Penutupan konferensi ini ditandai dengan pembacaan Risalah Ekoteologi, dokumen spiritual yang mencerminkan sikap Islam terhadap penyelamatan bumi.
Risalah tersebut dibacakan oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Arsad Hidayat. Di hadapan para peserta, ia menyampaikan bahwa kepedulian terhadap alam tidak hanya berdimensi etis, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah. "Risalah ini mengingatkan kita bahwa menjaga bumi bukan hanya kewajiban etis, tetapi juga ibadah. Ini adalah amanah dari Allah Swt. yang harus kita tunaikan bersama," ujar Arsad dalam keterangannya, dikutip Kamis (17/7/2025)
Dalam konteks global, deklarasi semacam ini menjadi sinyal penting. Bahwa Islam, dengan seluruh nilai teologis dan warisan spiritualnya, kini mulai mengambil posisi penting dalam arus utama gerakan lingkungan dunia. Konferensi ini bukan sekadar acara seremonial, tetapi momentum yang menandai kebangkitan peran agama sebagai aktor transformatif dalam isu keberlanjutan.
Risalah Ekoteologi yang lahir dari konferensi ini memuat enam butir utama. Salah satunya adalah penegasan bahwa Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW telah lama memuat ajaran ekologis yang kuat. Manusia dijelaskan sebagai khalifah, bukan penguasa absolut yang bebas merusak. Prinsip keadilan lingkungan, larangan perusakan (fasad), serta teladan Nabi dalam memperlakukan makhluk hidup menjadi dasar etika ekologis Islam. "Islam tidak pernah mengajarkan eksploitasi terhadap alam. Justru sebaliknya, kita diajarkan merawat dan menyeimbangkan kehidupan," kata Arsad.
Lebih jauh, para peserta konferensi sepakat bahwa pendidikan Islam harus menjadi tempat strategis dalam menanamkan nilai ekologi. Dari pesantren hingga kampus Islam, kurikulum perlu memuat ekoteologi sebagai nilai pokok. Kegiatan keagamaan pun diarahkan untuk membentuk kesadaran spiritual akan pentingnya menjaga alam.
Tak hanya itu, kontribusi Islam juga dirumuskan dalam bentuk kerangka etika yang bisa bersanding dengan gerakan keadilan iklim global. Nilai-nilai seperti tawazun (keseimbangan), maslahah (kemaslahatan bersama), dan ukhuwwah insaniyyah (solidaritas manusia) dianggap sebagai prinsip yang dapat menjembatani kerja sama lintas iman dan lintas sektor. Dalam forum tersebut, Arsad menegaskan, "Dialog lintas iman adalah strategi teologis dalam merawat bumi sebagai rumah bersama, bukan milik satu kelompok."
Konferensi ini juga menyoroti peran penting gerakan lokal berbasis Islam, seperti pesantren hijau dan komunitas Muslim peduli lingkungan, sebagai contoh nyata implementasi spiritualitas ekologis. Tradisi ini bukan hanya warisan budaya, tetapi juga praktik yang bisa diperluas sebagai model global.
Risalah juga menyerukan agar negara, tokoh agama, akademisi, pelaku usaha, media, dan komunitas membangun kolaborasi dalam kerangka pentahelix demi menghadirkan kebijakan dan aksi nyata untuk keberlanjutan bumi. Dalam hal ini, generasi muda dipandang sebagai penggerak utama gerakan ekoteologi digital yang lintas sektor dan menjangkau ruang-ruang sosial baru. "Peran anak muda sangat penting. Mereka adalah ujung tombak gerakan ekoteologi digital dan lintas sektor," tutur Arsad.
Satu hal yang tak luput dari perhatian adalah urgensi perlindungan terhadap para pejuang lingkungan. Konferensi menekankan pentingnya regulasi yang berpihak pada kelestarian dan menjamin keamanan para aktivis ekologi yang berjuang di lapangan.
Selain risalah, konferensi juga menghadirkan puluhan makalah ilmiah yang membahas berbagai pendekatan terhadap ekoteologi, mulai dari tafsir kontemporer, maqāṣid al-‘aqāid, hingga artefak budaya Islam. Ini menunjukkan bahwa ekoteologi tak berhenti di level wacana, melainkan telah berkembang menjadi paradigma baru dalam praktik beragama.
"Dengan semangat Green Deen, kita diajak membumikan agama. Ini bukan sekadar tren hijau, tapi komitmen teologis menjaga bumi sebagai amanah suci," pungkas Arsad.
ICIEFE 2025 menjadi rangkaian puncak dari program Peaceful Muharam 1447 H yang telah berjalan sejak 22 Juni 2025. Acara ini mempertemukan berbagai elemen dari pemerintah, akademisi dalam dan luar negeri, komunitas sipil, generasi muda, serta aktivis lingkungan. Dari Jakarta, sebuah risalah dilahirkan — membawa harapan baru, bahwa Islam siap menjadi kekuatan global dalam menjaga masa depan bumi.
(lam)