LANGIT7.ID-Jakarta; Sistem ekonomi Islam dinilai semakin relevan dalam menjawab tantangan global. Menteri Agama Nasaruddin Umar mengungkapkan bahwa, kini dunia mulai melirik model ekonomi tersebut di tengah ketidakpastian yang kian kompleks. Hal ini disampaikannya dalam doorstop usai menghadiri forum diskusi B57+ Asia Pacific Chapter.
Menurut Menag, dinamika global yang diwarnai ketimpangan dan disrupsi mendorong berbagai pihak untuk mencari alternatif sistem ekonomi yang lebih berkeadilan. Dalam konteks tersebut, ekonomi Islam dinilai menawarkan prinsip yang lebih demokratis, egaliter, dan inklusif.
“Sekarang ini dunia sedang mengalami fragmentasi. Dalam situasi seperti ini, penting bagi kita untuk tetap menjaga agar ekonomi terus bergerak dan berkembang. Salah satu yang mulai dilirik adalah sistem ekonomi Islam,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, ekonomi Islam tidak hanya berbicara tentang transaksi keuangan, tetapi juga mengedepankan nilai-nilai etika, keadilan sosial, serta keseimbangan antara kepentingan individu dan kolektif. Karena itu, sistem ini dinilai memiliki daya tarik tersendiri di tengah krisis kepercayaan terhadap sistem ekonomi konvensional.
Lebih lanjut, Menag menekankan bahwa penguatan ekonomi Islam harus tetap berakar pada praktik nyata di masyarakat, termasuk melalui optimalisasi peran institusi keagamaan seperti masjid. Menurutnya, masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan ekonomi umat, sebagaimana dicontohkan pada masa Nabi Muhammad.
“Masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga bisa menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi. Namun, bukan masjidnya yang dijadikan tempat bisnis, melainkan lingkungan sekitarnya yang diberdayakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, praktik ekonomi yang dicontohkan Nabi Muhammad menunjukkan bahwa aktivitas bisnis dan pengembangan ekonomi telah menjadi bagian integral dalam sejarah Islam. Nilai-nilai tersebut, kata Menag, relevan untuk diadaptasi dalam menjawab tantangan ekonomi kontemporer.
Menag berharap, penguatan ekonomi Islam tidak hanya memberikan manfaat bagi umat Muslim, tetapi juga dapat berkontribusi bagi kesejahteraan global secara lebih luas. “Ekonomi Islam itu bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh umat manusia,” pungkasnya.
(lam)