Anwar Abbas Kritik Menaker: Krisis Kerja Nyata, Bukan Sekadar Permainan Kata!
Tim langit 7
Jum'at, 18 Juli 2025 - 08:10 WIB
Anwar Abbas Kritik Menaker: Krisis Kerja Nyata, Bukan Sekadar Permainan Kata!
LANGIT7.ID–Jakarta; Pernyataan Menteri Ketenagakerjaan yang menolak menyebut kondisi saat ini sebagai “krisis lapangan kerja” menuai respons kritis dari Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas. Ia menegaskan bahwa saat ini Indonesia memang sedang menghadapi masalah serius terkait minimnya peluang kerja.
“Para pemimpin jangan sibuk memperbaiki kata-kata, tapi sibuklah dengan usaha untuk memperbaiki masalah yang ada dalam kata-kata tersebut,” ujar Anwar Abbas dalam keterangannya, Jumat (18/7/2025).
Anwar menilai, apa yang dilakukan Menteri Ketenagakerjaan dengan menghindari istilah "krisis" adalah bentuk upaya menenangkan publik, namun justru bisa menjadi kontraproduktif jika tidak diiringi langkah nyata.
Ia mencontohkan pernyataan Jusuf Kalla (JK), mantan Wakil Presiden RI, yang mengaku hanya membuka 20 lowongan insinyur namun pelamarnya mencapai 23.000 orang. Sementara di daerah seperti Santiong, Cianjur, antrean panjang pelamar kerja untuk satu lowongan di toko ritel mencerminkan betapa kerasnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.
“Apakah ini tidak mencerminkan bahwa di negeri ini telah terjadi krisis lapangan kerja?” kata Anwar.
Menurutnya, penggunaan eufimisme atau bahasa yang diperhalus dalam pernyataan pejabat hanya akan menutupi realita dan bisa menyesatkan arah kebijakan. Ia menyebut eufimisme sebagai penghalang bagi tindakan perbaikan yang konkret karena makna sebenarnya justru menjadi kabur.
“Eufimisme itu terkadang dapat menyamarkan masalah yang sebenarnya, bahkan suka-suka tidak mendorong kita untuk melakukan tindakan perbaikan,” tegasnya.
“Para pemimpin jangan sibuk memperbaiki kata-kata, tapi sibuklah dengan usaha untuk memperbaiki masalah yang ada dalam kata-kata tersebut,” ujar Anwar Abbas dalam keterangannya, Jumat (18/7/2025).
Anwar menilai, apa yang dilakukan Menteri Ketenagakerjaan dengan menghindari istilah "krisis" adalah bentuk upaya menenangkan publik, namun justru bisa menjadi kontraproduktif jika tidak diiringi langkah nyata.
Ia mencontohkan pernyataan Jusuf Kalla (JK), mantan Wakil Presiden RI, yang mengaku hanya membuka 20 lowongan insinyur namun pelamarnya mencapai 23.000 orang. Sementara di daerah seperti Santiong, Cianjur, antrean panjang pelamar kerja untuk satu lowongan di toko ritel mencerminkan betapa kerasnya persaingan untuk mendapatkan pekerjaan.
“Apakah ini tidak mencerminkan bahwa di negeri ini telah terjadi krisis lapangan kerja?” kata Anwar.
Menurutnya, penggunaan eufimisme atau bahasa yang diperhalus dalam pernyataan pejabat hanya akan menutupi realita dan bisa menyesatkan arah kebijakan. Ia menyebut eufimisme sebagai penghalang bagi tindakan perbaikan yang konkret karena makna sebenarnya justru menjadi kabur.
“Eufimisme itu terkadang dapat menyamarkan masalah yang sebenarnya, bahkan suka-suka tidak mendorong kita untuk melakukan tindakan perbaikan,” tegasnya.