home masjid

Dari Kairo ke Senayan: Nafas Panjang Ikhwanul Muslimin di Politik Indonesia

Selasa, 02 September 2025 - 05:15 WIB
Hampir seabad setelah lahir, bayang-bayang Kairo masih jatuh di tanah air. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah rumah kontrakan sederhana di Depok, Jawa Barat, sekelompok mahasiswa duduk melingkar, kitab tipis di tangan. Mereka membaca potongan tafsir Sayyid Qutb, sang ideolog Mesir yang dieksekusi pada 1966. Diskusi berlangsung pelan, diselingi doa. “Ini bukan sekadar pengajian,” kata seorang aktivis senior yang kini menjadi politisi. “Ini tarbiyah.” Sebuah kata kunci yang menghubungkan mereka dengan Ikhwanul Muslimin (IM), gerakan Islam yang lahir di Mesir pada 1928.

Hampir seabad silam, Hasan al-Banna mendirikan IM sebagai respons atas keterpurukan umat Islam pasca-runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. “Gerakan ini muncul untuk mengembalikan Islam sebagai sistem hidup, bukan sekadar ritual,” tulis Olivier Carré dalam Mystique et politique: lecture révolutionnaire du Coran par Sayyid Qutb (1984). Dari Kairo, ide itu merambat ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia, meski tanpa papan nama resmi.

Baca juga: Apa Itu Ikhwanul Muslimin dan Kenapa Banyak Negara Melarangnya?

Lintasan Ideologi

Gelombang pertama pengaruh IM datang lewat mahasiswa Indonesia yang menimba ilmu di Timur Tengah pada 1950-an. Sebagian mereka bertemu langsung dengan tokoh Ikhwan atau menyerap literatur dakwah yang digagas al-Banna.

Azyumardi Azra dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara (1994) mencatat bahwa arus ide ini awalnya masuk lewat jalur nonformal: diskusi, pengajian, dan penerjemahan buku.

Namun, bibit itu baru tumbuh subur pada era Orde Baru. Di tengah represi politik terhadap partai Islam, ideologi Ikhwan menemukan rumah baru: masjid kampus. Melalui halaqah, kelompok kecil mahasiswa mendalami tafsir dan fikih peradaban.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya