Kementerian Kebudayaan Gelar Harmoni Pemajuan Kebudayaan di Bali: Pameran Seni, Tradisi Adat, dan Kuliner Nusantara
Tim langit 7
Selasa, 02 September 2025 - 08:30 WIB
Kementerian Kebudayaan Gelar Harmoni Pemajuan Kebudayaan di Bali: Pameran Seni, Tradisi Adat, dan Kuliner Nusantara
LANGIT7.ID-Bali;Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bekerja sama dengan Neka Art Museum, menyelenggarakan rangkaian kegiatan bertajuk “Harmoni Pemajuan Kebudayaan”. Diselenggarakan di Neka Art Museum, Ubud, Gianyar, Bali, kegiatan ini menjadi ruang temu antara ekspresi seni rupa, literasi budaya, kearifan masyarakat adat, serta tradisi kuliner, sebagai bagian tak terpisahkan dari strategi pemajuan kebudayaan nasional. Kegiatan ini terdiri dari empat agenda utama, yakni Pameran Seni Rupa Keris “Vibrant Colors”, Peluncuran Buku Taksu Keris Bali, Sarasehan Masyarakat Adat, serta pengalaman gastronomi adat melalui Kuliner Cara Puri.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir langsung dalam rangkaian acara tersebut. Dalam sambutannya, Menbud Fadli menegaskan bahwa kebudayaan merupakan kekuatan pemersatu bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan, bahkan di tengah situasi sosial-politik yang penuh tantangan. “Budaya justru menyatukan. Karena itu, life goes on dan culture must goes on; hidup harus terus berjalan, dan budaya juga harus terus berlanjut,” ujar Menbud Fadli membuka sambutannya, dikutip Selasa (2/9/2025).
Sebagai bagian dari upaya membangun literasi budaya, salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah peluncuran buku Taksu Keris Bali, yang ditulis Menbud Fadli bersama Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono. Buku ini membahas keris bukan hanya sebagai objek budaya, melainkan sebagai manifestasi nilai, keyakinan, dan kekuatan spiritual dalam masyarakat Bali. Menbud Fadli menegaskan pentingnya penguatan literasi budaya melalui penerbitan karya tulis yang mendalam dan kontekstual, khususnya yang dapat menjangkau generasi muda. Buku ini tidak hanya mendeskripsikan keris, tetapi menyingkap makna yang tersembunyi di balik bentuknya, mulai dari proses penciptaan, tuah, hingga peran keris dalam kehidupan spiritual.
Dibuka dengan pertunjukan Tari Pendet sebagai simbol penyambutan, peluncuran buku Taksu Keris Bali juga sekaligus menjadi pembuka Pameran Seni Rupa Keris “Vibrant Colors”, menampilkan karya-karya seni rupa kontemporer yang terinspirasi dari filosofi dan keindahan keris sebagai warisan budaya dunia.
Dalam kesempatan ini, Menbud Fadli menggarisbawahi pentingnya warisan budaya Bali dalam memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Tari-tarian, seni rupa, hingga keris Bali telah lama menjadi simbol diplomasi budaya. Bahkan, menurut Menbud Fadli, Presiden Prabowo Subianto kerap menghadiahkan keris Bali kepada para pemimpin dunia sebagai bentuk penghargaan dan simbol persahabatan.
“Keris Bali memiliki nilai artistik yang luar biasa. Sebagai warisan budaya tak benda yang telah diakui UNESCO, keris tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga mengandung filosofi dan taksu yang dalam,” tambahnya.
Selain itu, dalam rangka penguatan organisasi dan struktur kelembagaan pelaku perkerisan di Indonesia, Menbud Fadli dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), turut melantik Koordinator Wilayah SNKI Provinsi Bali. Pelantikan ini merupakan bagian dari langkah strategis SNKI dalam membangun sistem kelembagaan yang inklusif dan merata di seluruh daerah, seiring dengan pertumbuhan organisasi yang saat ini telah menghimpun lebih dari 220 paguyuban keris dari seluruh Indonesia.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, hadir langsung dalam rangkaian acara tersebut. Dalam sambutannya, Menbud Fadli menegaskan bahwa kebudayaan merupakan kekuatan pemersatu bangsa yang harus terus dijaga dan dikembangkan, bahkan di tengah situasi sosial-politik yang penuh tantangan. “Budaya justru menyatukan. Karena itu, life goes on dan culture must goes on; hidup harus terus berjalan, dan budaya juga harus terus berlanjut,” ujar Menbud Fadli membuka sambutannya, dikutip Selasa (2/9/2025).
Sebagai bagian dari upaya membangun literasi budaya, salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah peluncuran buku Taksu Keris Bali, yang ditulis Menbud Fadli bersama Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono. Buku ini membahas keris bukan hanya sebagai objek budaya, melainkan sebagai manifestasi nilai, keyakinan, dan kekuatan spiritual dalam masyarakat Bali. Menbud Fadli menegaskan pentingnya penguatan literasi budaya melalui penerbitan karya tulis yang mendalam dan kontekstual, khususnya yang dapat menjangkau generasi muda. Buku ini tidak hanya mendeskripsikan keris, tetapi menyingkap makna yang tersembunyi di balik bentuknya, mulai dari proses penciptaan, tuah, hingga peran keris dalam kehidupan spiritual.
Dibuka dengan pertunjukan Tari Pendet sebagai simbol penyambutan, peluncuran buku Taksu Keris Bali juga sekaligus menjadi pembuka Pameran Seni Rupa Keris “Vibrant Colors”, menampilkan karya-karya seni rupa kontemporer yang terinspirasi dari filosofi dan keindahan keris sebagai warisan budaya dunia.
Dalam kesempatan ini, Menbud Fadli menggarisbawahi pentingnya warisan budaya Bali dalam memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Tari-tarian, seni rupa, hingga keris Bali telah lama menjadi simbol diplomasi budaya. Bahkan, menurut Menbud Fadli, Presiden Prabowo Subianto kerap menghadiahkan keris Bali kepada para pemimpin dunia sebagai bentuk penghargaan dan simbol persahabatan.
“Keris Bali memiliki nilai artistik yang luar biasa. Sebagai warisan budaya tak benda yang telah diakui UNESCO, keris tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga mengandung filosofi dan taksu yang dalam,” tambahnya.
Selain itu, dalam rangka penguatan organisasi dan struktur kelembagaan pelaku perkerisan di Indonesia, Menbud Fadli dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Sekretariat Nasional Perkerisan Indonesia (SNKI), turut melantik Koordinator Wilayah SNKI Provinsi Bali. Pelantikan ini merupakan bagian dari langkah strategis SNKI dalam membangun sistem kelembagaan yang inklusif dan merata di seluruh daerah, seiring dengan pertumbuhan organisasi yang saat ini telah menghimpun lebih dari 220 paguyuban keris dari seluruh Indonesia.