Ketika Agama Membungkus Ambisi: Kisah Yahudi, Nasrani, dan Awal Islam
Miftah yusufpati
Senin, 08 September 2025 - 05:45 WIB
Kritik Al-Quran kepada Ahl al-Kitab bukan sekadar soal beda iman. Ia lahir dari tarik-menarik kepentingan politik dan ekonomi, yang dibungkus agama, sejak awal sejarah Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Kecaman Al-Qur’an terhadap Ahl al-Kitab—sebutan untuk Yahudi dan Nasrani—tidak muncul dalam ruang hampa. Sebagian besar kritik justru diarahkan kepada komunitas Yahudi, bukan Nasrani. Sebabnya bukan semata perbedaan keyakinan, melainkan sikap yang mereka tunjukkan kepada kaum Muslim pada masa awal Islam.
Sejak semula, kedua kelompok ini menempuh jalan yang berbeda. Al-Qur’an mencatat, ketika Romawi Kristen kalah dari Persia penyembah api pada tahun 614 M, kaum Muslim merasa sedih. Namun wahyu turun menghibur mereka, menyatakan bahwa Romawi akan kembali menang, dan ketika itu kaum Mukmin akan bergembira:
Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang) dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (QS al-Rum [30]: 1-5).
Ayat ini menjadi bukti simpati kaum Muslim kepada kaum Nasrani pada awal Islam. Bahkan penguasa Ethiopia, seorang Nasrani, pernah melindungi kaum Muslim yang hijrah ke negerinya. Maka tidak heran Al-Qur’an menegaskan:
Sesungguhnya kamu pasti akan menemukan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, dan sesungguhnya pasti kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’ (QS al-Ma’idah [5]: 82).
Baca juga: Ketika Kitab Menjadi Batas: Menakar Kekufuran Ahli Kitab dalam Lensa Al-Qur’an
Mengapa demikian? Menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, sebab pokoknya adalah kedengkian orang Yahudi terhadap kehadiran seorang Nabi yang tidak berasal dari golongan mereka (QS al-Baqarah [2]: 109). Kehadiran Nabi Muhammad membuat pengaruh politik dan ekonomi Yahudi di Madinah menyusut. Sebaliknya, kedekatan sebagian Nasrani dengan kaum Muslim lahir karena di antara mereka terdapat pendeta dan rahib yang zuhud serta tidak menyombongkan diri (QS al-Ma’idah [5]: 82). Mereka relatif berhasil menanamkan nilai moral, dan tidak memiliki kekuatan politik yang bisa menimbulkan benturan dengan umat Islam.
Sejak semula, kedua kelompok ini menempuh jalan yang berbeda. Al-Qur’an mencatat, ketika Romawi Kristen kalah dari Persia penyembah api pada tahun 614 M, kaum Muslim merasa sedih. Namun wahyu turun menghibur mereka, menyatakan bahwa Romawi akan kembali menang, dan ketika itu kaum Mukmin akan bergembira:
Alif Lam Mim. Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat, dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang) dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dialah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (QS al-Rum [30]: 1-5).
Ayat ini menjadi bukti simpati kaum Muslim kepada kaum Nasrani pada awal Islam. Bahkan penguasa Ethiopia, seorang Nasrani, pernah melindungi kaum Muslim yang hijrah ke negerinya. Maka tidak heran Al-Qur’an menegaskan:
Sesungguhnya kamu pasti akan menemukan orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik, dan sesungguhnya pasti kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang beriman adalah orang-orang yang berkata, ‘Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’ (QS al-Ma’idah [5]: 82).
Baca juga: Ketika Kitab Menjadi Batas: Menakar Kekufuran Ahli Kitab dalam Lensa Al-Qur’an
Mengapa demikian? Menurut Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an, sebab pokoknya adalah kedengkian orang Yahudi terhadap kehadiran seorang Nabi yang tidak berasal dari golongan mereka (QS al-Baqarah [2]: 109). Kehadiran Nabi Muhammad membuat pengaruh politik dan ekonomi Yahudi di Madinah menyusut. Sebaliknya, kedekatan sebagian Nasrani dengan kaum Muslim lahir karena di antara mereka terdapat pendeta dan rahib yang zuhud serta tidak menyombongkan diri (QS al-Ma’idah [5]: 82). Mereka relatif berhasil menanamkan nilai moral, dan tidak memiliki kekuatan politik yang bisa menimbulkan benturan dengan umat Islam.