home masjid

Sahabat Nabi Paling Kaya: Umat Islam Harus Tajir

Selasa, 16 September 2025 - 05:45 WIB
Sahabat Nabi yang paling kaya bukan hanya contoh kejayaan materi, tapi simbol bahwa harta adalah sarana dakwah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Ketika Islam lahir di Makkah abad ke-7, umatnya bukan hanya diwarnai pengorbanan spiritual, tetapi juga kejayaan ekonomi. Beberapa sahabat Nabi Muhammad justru dikenal sebagai saudagar tajir, yang hartanya menopang dakwah.

Abdurrahman bin Auf, misalnya, disebut dalam Sirah Ibn Hisham sebagai pedagang yang tak segan mewakafkan kafilah dagangnya untuk perjuangan Islam. Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan ia menyumbang 700 unta beserta muatannya untuk jihad. Utsman bin Affan, khalifah ketiga, dikenal pula sebagai pemilik sumur Rumah yang dibeli dengan harga tinggi lalu diwakafkan untuk masyarakat.

Ekonomi, sejak awal, menjadi fondasi penyebaran Islam.

Sejarawan Ira M. Lapidus dalam A History of Islamic Societies (2002) menulis, sejak masa Nabi hingga dinasti awal, Islam berkembang pesat karena jaringannya kuat di kalangan pedagang. Islam bukan hanya agama padang pasir, melainkan jejaring niaga lintas kabilah.

Baca juga: Kekayaan Carlos Alcaraz Pasca Wimbledon Melambung Tinggi, Nike Kasih Kontrak 313 Miliar Pertahun

Michael Cook dalam Commanding Right and Forbidding Wrong in Islamic Thought(2000) menyebut peran sahabat kaya penting dalam menopang visi moral Islam. Mereka bukan sekadar menyimpan kekayaan, tapi mengalihkannya menjadi modal sosial dan amal.

Itulah mengapa, dalam banyak hadis, Nabi Muhammad tidak pernah melarang umatnya untuk kaya. Justru, sebagaimana riwayat Ahmad bin Hanbal, beliau berdoa agar harta sahabat digunakan di jalan yang benar.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya