Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 05 Mei 2026
home masjid detail berita

Sahabat Nabi Paling Kaya: Umat Islam Harus Tajir

miftah yusufpati Selasa, 16 September 2025 - 05:45 WIB
Sahabat Nabi Paling Kaya: Umat Islam Harus Tajir
Sahabat Nabi yang paling kaya bukan hanya contoh kejayaan materi, tapi simbol bahwa harta adalah sarana dakwah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Ketika Islam lahir di Makkah abad ke-7, umatnya bukan hanya diwarnai pengorbanan spiritual, tetapi juga kejayaan ekonomi. Beberapa sahabat Nabi Muhammad justru dikenal sebagai saudagar tajir, yang hartanya menopang dakwah.

Abdurrahman bin Auf, misalnya, disebut dalam Sirah Ibn Hisham sebagai pedagang yang tak segan mewakafkan kafilah dagangnya untuk perjuangan Islam. Dalam Shahih Bukhari, diriwayatkan ia menyumbang 700 unta beserta muatannya untuk jihad. Utsman bin Affan, khalifah ketiga, dikenal pula sebagai pemilik sumur Rumah yang dibeli dengan harga tinggi lalu diwakafkan untuk masyarakat.

Ekonomi, sejak awal, menjadi fondasi penyebaran Islam.

Sejarawan Ira M. Lapidus dalam A History of Islamic Societies (2002) menulis, sejak masa Nabi hingga dinasti awal, Islam berkembang pesat karena jaringannya kuat di kalangan pedagang. Islam bukan hanya agama padang pasir, melainkan jejaring niaga lintas kabilah.

Baca juga: Kekayaan Carlos Alcaraz Pasca Wimbledon Melambung Tinggi, Nike Kasih Kontrak 313 Miliar Pertahun

Michael Cook dalam Commanding Right and Forbidding Wrong in Islamic Thought (2000) menyebut peran sahabat kaya penting dalam menopang visi moral Islam. Mereka bukan sekadar menyimpan kekayaan, tapi mengalihkannya menjadi modal sosial dan amal.

Itulah mengapa, dalam banyak hadis, Nabi Muhammad tidak pernah melarang umatnya untuk kaya. Justru, sebagaimana riwayat Ahmad bin Hanbal, beliau berdoa agar harta sahabat digunakan di jalan yang benar.

Namun kaya bukan tujuan akhir. Fazlur Rahman dalam Islam (1984) mengingatkan, Islam memandang harta sebagai amanah, bukan sekadar milik pribadi. Kesalehan sosial diuji lewat zakat, infak, dan sedekah.

Seperti ditulis Karen Armstrong dalam Muhammad: A Prophet for Our Time (2006), umat awal Islam belajar bahwa kedermawanan adalah pilar spiritual. Utsman, Abdurrahman, dan bahkan Abu Bakar dikenal bukan hanya sebagai konglomerat Arab, melainkan juga donatur utama dakwah.

Baca juga: Kekayaan Mohamed Salah, Istri yang Privat, Rumah Mewah di Liverpool yang Mirip Rumah Sakit, dan Gaji 70 Miliar Perminggu

Relevansi Hari Ini

Mengapa relevan kini? Data Oxfam (2020) menunjukkan jurang ketimpangan global terus melebar, termasuk di dunia Muslim. Di Indonesia, menurut laporan BPS (2023), 1 persen orang terkaya menguasai lebih dari 45 persen aset nasional.

Di tengah kondisi itu, seruan “umat Islam harus tajir” mendapat makna baru. Bukan sekadar mengejar kapital, tetapi memperkuat basis ekonomi agar tidak terpinggirkan. Ekonom Syed Nawab Haider Naqvi dalam Islam, Economics, and Society (1994) menekankan, keseimbangan antara akumulasi dan distribusi adalah inti ekonomi Islam. Kaya boleh, asal adil.

Banyak ormas Islam kini mulai menggerakkan koperasi syariah, BMT, hingga investasi halal. Itu seakan mengulang strategi sahabat Nabi: ekonomi sebagai senjata dakwah.

Sahabat Nabi yang paling kaya bukan hanya contoh kejayaan materi, tapi simbol bahwa harta adalah sarana dakwah. Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Abu Bakar—mereka menunjukkan umat Islam tidak ditakdirkan miskin.

Pertanyaannya kini: mampukah umat Islam modern mengulangi jejak itu? Kekayaan bisa saja menghentikan lapar sesaat, tapi dalam tangan yang tepat, ia bisa menggerakkan peradaban.

Baca juga: Sultan Brunei pemilik 7.000 mobil mewah dengan kekayaan Rp 750 triliun. Istana megahnya pecahkan rekor dunia. Biaya potong rambut Rp 300 juta!

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 05 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)