Abdul Mu’ti: Peringatan Hari Besar Islam Jadi Pilar Pendidikan Karakter Bangsa
Tim langit 7
Kamis, 18 September 2025 - 09:44 WIB
Abdul Muti: Peringatan Hari Besar Islam Jadi Pilar Pendidikan Karakter Bangsa
LANGIT7.ID-Jakarta;Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa peringatan hari besar agama, khususnya Islam, memiliki peran strategis dalam membentuk karakter bangsa. Pandangan ini ia sampaikan dalam acara Maulid Nabi Muhammadiyah bertajuk “Teladan Nabi Muhammad SAW Membangun Karakter Bangsa untuk Pendidikan Bermutu” yang digelar di Masjid Baitut Tholibin, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (16/9).
Menurut Mu’ti, momentum seperti Maulid Nabi bukan sekadar seremoni, tetapi bisa menjadi wahana pembelajaran kepemimpinan bagi pelajar sekaligus sarana untuk menghidupkan aktivitas positif di lingkungan sekolah. “Kalau dikaitkan dengan Maulid Nabi, maka diharapkan kita bisa meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Rasulullah Muhammad ini manusia – rasul akhir zaman yang sempurna,” katanya, dilansir dari situs Muhammadiyah, Kamis (18/9/2025).
Ia menekankan, kesempurnaan pribadi Nabi Muhammad SAW menjadikan beliau teladan universal yang dapat ditiru dari berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks kekinian, kata Mu’ti, salah satu yang relevan untuk dicontoh adalah sikap hidup sederhana.
Dalam salah satu bacaan Kitab Al Barzanji, sifat Nabi Muhammad digambarkan sangat pemalu dalam arti positif. “Sangat pemalu dalam artian sangat menjaga kehormatannya, sehingga beliau itu, demi menjaga kehormatan itu beliau berusaha bagaimana tidak berbuat yang mempermalukan dirinya dan mempermalukan orang lain,” ujar Mu’ti.
Lebih jauh, ia menguraikan bahwa sikap rendah hati Nabi tercermin dari kebiasaannya menjahit sendiri pakaian yang sobek atau memperbaiki alas kaki yang rusak, tanpa bergantung pada orang lain. “Ini menggambarkan betapa beliau itu orang yang sangat sederhana. Jadi walaupun sepatunya sudah rusak, tapi masih dipakai, beliau akan ngesol sendiri sepatunya. Ini berarti koleksi sepatunya tidak banyak,” tutur Mu’ti.
Kesederhanaan itu juga tampak ketika Nabi memerah susu kambing miliknya sendiri. “Dan yang menarik lagi disebutkan, beliau itu sangat dekat dengan orang fakir dan tidak menyulitkan orang fakir,” imbuhnya.
Bagi Mu’ti, teladan pelayanan yang diberikan Nabi Muhammad SAW menjadi bukti kepemimpinan yang ikhlas. “Dan yang menarik lagi disebutkan, beliau itu sangat dekat dengan orang fakir dan tidak menyulitkan orang fakir,” lanjutnya.
Menurut Mu’ti, momentum seperti Maulid Nabi bukan sekadar seremoni, tetapi bisa menjadi wahana pembelajaran kepemimpinan bagi pelajar sekaligus sarana untuk menghidupkan aktivitas positif di lingkungan sekolah. “Kalau dikaitkan dengan Maulid Nabi, maka diharapkan kita bisa meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Rasulullah Muhammad ini manusia – rasul akhir zaman yang sempurna,” katanya, dilansir dari situs Muhammadiyah, Kamis (18/9/2025).
Ia menekankan, kesempurnaan pribadi Nabi Muhammad SAW menjadikan beliau teladan universal yang dapat ditiru dari berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks kekinian, kata Mu’ti, salah satu yang relevan untuk dicontoh adalah sikap hidup sederhana.
Dalam salah satu bacaan Kitab Al Barzanji, sifat Nabi Muhammad digambarkan sangat pemalu dalam arti positif. “Sangat pemalu dalam artian sangat menjaga kehormatannya, sehingga beliau itu, demi menjaga kehormatan itu beliau berusaha bagaimana tidak berbuat yang mempermalukan dirinya dan mempermalukan orang lain,” ujar Mu’ti.
Lebih jauh, ia menguraikan bahwa sikap rendah hati Nabi tercermin dari kebiasaannya menjahit sendiri pakaian yang sobek atau memperbaiki alas kaki yang rusak, tanpa bergantung pada orang lain. “Ini menggambarkan betapa beliau itu orang yang sangat sederhana. Jadi walaupun sepatunya sudah rusak, tapi masih dipakai, beliau akan ngesol sendiri sepatunya. Ini berarti koleksi sepatunya tidak banyak,” tutur Mu’ti.
Kesederhanaan itu juga tampak ketika Nabi memerah susu kambing miliknya sendiri. “Dan yang menarik lagi disebutkan, beliau itu sangat dekat dengan orang fakir dan tidak menyulitkan orang fakir,” imbuhnya.
Bagi Mu’ti, teladan pelayanan yang diberikan Nabi Muhammad SAW menjadi bukti kepemimpinan yang ikhlas. “Dan yang menarik lagi disebutkan, beliau itu sangat dekat dengan orang fakir dan tidak menyulitkan orang fakir,” lanjutnya.