Ketika Malaikat Memberi Salam kepada Khadijah dan Aisyah
Miftah yusufpati
Senin, 22 September 2025 - 05:15 WIB
Kemuliaan mereka tak lekang oleh budaya patriarki. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di sebuah rumah sederhana di Makkah, seorang perempuan bangsawan Quraisy yang dermawan, Khadijah binti Khuwailid, menerima salam istimewa. Bukan dari manusia, melainkan dari Malaikat Jibril. “Wahai Rasulullah, ini Khadijah. Jika ia datang kepadamu, maka ucapkanlah salam atasnya dari Allah dan dariku,” sabda Nabi saw. sebagaimana diriwayatkan Bukhari-Muslim.
Dalam khazanah hadis, peristiwa itu disebut sebagai bukti pengakuan langit atas kemuliaan seorang istri yang setia menopang dakwah Nabi. Khadijah bukan sekadar “pendamping rumah tangga”, melainkan mitra strategis dalam sejarah lahirnya Islam. Sejarawan perempuan Muslim, Leila Ahmed, dalam Women and Gender in Islam (1992), menilai peran Khadijah menandai bahwa Islam sejak awal memberi pengakuan spiritual dan sosial kepada perempuan.
Salam Jibril untuk Aisyah
Kemuliaan serupa dialami Aisyah binti Abu Bakar. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. berkata kepadanya: “Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu.” Bagi seorang perempuan muda yang kelak menjadi guru umat, penghormatan malaikat itu bukan hal kecil.
Aisyah bukan hanya istri Nabi, tetapi juga perawi hadis terbesar kedua setelah Abu Hurairah. Lebih dari 2.000 hadis ia riwayatkan, sebagian besar menyangkut kehidupan domestik Nabi. Dalam pandangan Jonathan Brown dalam Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World (2009), Aisyah mewariskan bukan saja riwayat, tetapi juga otoritas keilmuan yang diakui para sahabat besar.
Fatimah, Putri yang Menjadi Pemimpin Surga
Kemuliaan berikutnya tersemat pada Fathimah binti Muhammad saw. Suatu hari, Nabi bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau ridha menjadi pemimpin wanita-wanita penghuni surga?” (HR Bukhari). Fatimah, yang hidup sederhana dan wafat dalam usia muda, dikenang bukan karena hartanya, melainkan keteguhan hati dan kecintaan kepada ayahnya.
Dalam khazanah hadis, peristiwa itu disebut sebagai bukti pengakuan langit atas kemuliaan seorang istri yang setia menopang dakwah Nabi. Khadijah bukan sekadar “pendamping rumah tangga”, melainkan mitra strategis dalam sejarah lahirnya Islam. Sejarawan perempuan Muslim, Leila Ahmed, dalam Women and Gender in Islam (1992), menilai peran Khadijah menandai bahwa Islam sejak awal memberi pengakuan spiritual dan sosial kepada perempuan.
Salam Jibril untuk Aisyah
Kemuliaan serupa dialami Aisyah binti Abu Bakar. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. berkata kepadanya: “Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu.” Bagi seorang perempuan muda yang kelak menjadi guru umat, penghormatan malaikat itu bukan hal kecil.
Aisyah bukan hanya istri Nabi, tetapi juga perawi hadis terbesar kedua setelah Abu Hurairah. Lebih dari 2.000 hadis ia riwayatkan, sebagian besar menyangkut kehidupan domestik Nabi. Dalam pandangan Jonathan Brown dalam Hadith: Muhammad’s Legacy in the Medieval and Modern World (2009), Aisyah mewariskan bukan saja riwayat, tetapi juga otoritas keilmuan yang diakui para sahabat besar.
Fatimah, Putri yang Menjadi Pemimpin Surga
Kemuliaan berikutnya tersemat pada Fathimah binti Muhammad saw. Suatu hari, Nabi bersabda kepadanya: “Tidakkah engkau ridha menjadi pemimpin wanita-wanita penghuni surga?” (HR Bukhari). Fatimah, yang hidup sederhana dan wafat dalam usia muda, dikenang bukan karena hartanya, melainkan keteguhan hati dan kecintaan kepada ayahnya.