Menbud Fadli Zon Puji Presiden Prabowo: Suarakan Peradaban dan Kebudayaan di Panggung PBB
Tim langit 7
Kamis, 25 September 2025 - 08:45 WIB
Menbud Fadli Zon Puji Presiden Prabowo: Suarakan Peradaban dan Kebudayaan di Panggung PBB
LANGIT7.ID-Jakarta;Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyampaikan apresiasi penuh dan menegaskan bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum ke-80 PBB di New York pada Selasa (23/09/2025) malam telah menempatkan Indonesia di posisi penting panggung dunia. Pidato itu menggaungkan amanat konstitusi untuk menciptakan perdamaian dan penghapusan terhadap penjajahan di muka bumi. Suara Indonesia makin diperhitungkan.
Menurutnya, pidato tersebut menampilkan dimensi sejarah, nilai, dan identitas budaya bangsa yang dengan penuh kebanggaan dibawa ke forum terbesar dunia.
“Sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi kita, UUD 1945 Pasal 32 ayat 1, negara wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Pidato Presiden di hadapan Majelis Umum PBB menunjukkan bagaimana kebudayaan Indonesia menjadi kekuatan moral dan peradaban, yang relevan untuk menjawab tantangan global sekaligus memperkuat posisi bangsa di mata dunia,” ujar Menbud dalam keterangannya, Kamis (25/9/2025).
Di hadapan para kepala negara, lanjut Menbud, Presiden Prabowo menyampaikan dengan penuh keyakinan bahwa dunia hari ini dituntut untuk memilih sisi sejarah yang benar, terutama terkait dukungan bagi perjuangan Palestina. “Presiden menegaskan bahwa dukungan dan pengakuan negara Palestina adalah langkah yang tepat di sisi sejarah yang benar. Sejarah akan terus mencatat, apakah kita membiarkan ketidakadilan berlangsung atau bangkit untuk menjaga martabat kemanusiaan. Ini adalah pesan peradaban yang menjadi arah bagi generasi mendatang,” ujar Fadli.
Fadli juga menyoroti pidato Presiden yang mengingatkan tentang refleksi perjalanan bangsa Indonesia di masa kolonialisme, penindasan, dan perjuangan panjang menuju kemerdekaan. “Presiden menekankan bagaimana kita tahu arti penderitaan, arti hidup dalam apartheid, arti dirampas dari keadilan. Dari pengalaman itu, Indonesia belajar bahwa solidaritas global adalah kunci. Ini bukan hanya berbicara tentang Indonesia, tetapi tentang kemanusiaan secara universal,” jelas Fadli.
Ia menilai kutipan Presiden dari Thucydides, _The strong do what they can, the weak suffer what they must_, sebagai peringatan bahwa tatanan dunia yang adil harus menolak doktrin kekuasaan semata. “Indonesia menegaskan bahwa yang benar harus tetap benar, bukan yang kuat yang menentukan kebenaran. Itulah prinsip sejarah yang membimbing arah peradaban,” tambahnya.
Dalam pidatonya, Presiden juga menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras dan siap membantu dunia melalui ekspor pangan serta program ketahanan pangan global. Menbud menilai hal ini bukan hanya capaian ekonomi, tetapi juga capaian budaya.
Menurutnya, pidato tersebut menampilkan dimensi sejarah, nilai, dan identitas budaya bangsa yang dengan penuh kebanggaan dibawa ke forum terbesar dunia.
“Sebagaimana ditegaskan dalam konstitusi kita, UUD 1945 Pasal 32 ayat 1, negara wajib memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Pidato Presiden di hadapan Majelis Umum PBB menunjukkan bagaimana kebudayaan Indonesia menjadi kekuatan moral dan peradaban, yang relevan untuk menjawab tantangan global sekaligus memperkuat posisi bangsa di mata dunia,” ujar Menbud dalam keterangannya, Kamis (25/9/2025).
Di hadapan para kepala negara, lanjut Menbud, Presiden Prabowo menyampaikan dengan penuh keyakinan bahwa dunia hari ini dituntut untuk memilih sisi sejarah yang benar, terutama terkait dukungan bagi perjuangan Palestina. “Presiden menegaskan bahwa dukungan dan pengakuan negara Palestina adalah langkah yang tepat di sisi sejarah yang benar. Sejarah akan terus mencatat, apakah kita membiarkan ketidakadilan berlangsung atau bangkit untuk menjaga martabat kemanusiaan. Ini adalah pesan peradaban yang menjadi arah bagi generasi mendatang,” ujar Fadli.
Fadli juga menyoroti pidato Presiden yang mengingatkan tentang refleksi perjalanan bangsa Indonesia di masa kolonialisme, penindasan, dan perjuangan panjang menuju kemerdekaan. “Presiden menekankan bagaimana kita tahu arti penderitaan, arti hidup dalam apartheid, arti dirampas dari keadilan. Dari pengalaman itu, Indonesia belajar bahwa solidaritas global adalah kunci. Ini bukan hanya berbicara tentang Indonesia, tetapi tentang kemanusiaan secara universal,” jelas Fadli.
Ia menilai kutipan Presiden dari Thucydides, _The strong do what they can, the weak suffer what they must_, sebagai peringatan bahwa tatanan dunia yang adil harus menolak doktrin kekuasaan semata. “Indonesia menegaskan bahwa yang benar harus tetap benar, bukan yang kuat yang menentukan kebenaran. Itulah prinsip sejarah yang membimbing arah peradaban,” tambahnya.
Dalam pidatonya, Presiden juga menegaskan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada beras dan siap membantu dunia melalui ekspor pangan serta program ketahanan pangan global. Menbud menilai hal ini bukan hanya capaian ekonomi, tetapi juga capaian budaya.