Menemukan Islam: Ketika Ajaran Baru Menyapa Nusantara
Miftah yusufpati
Selasa, 07 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Islam Indonesia bukanlah produk pasif dari Mekah, tapi hasil penerimaan aktif oleh masyarakat yang sudah memiliki bahasa, seni, dan spiritualitas sendiri. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Batavia, Abad ke-18. Seorang pria Mesir berdiri di pelabuhan, mengenakan jubah panjang dan serban yang tidak sepenuhnya Arab. Mansur al-Misri, begitu ia dikenal, diminta oleh beberapa pelukis Belanda di Batavia untuk berpose: memegang kitab suci, berdiri tegak seperti seorang nabi, dengan cahaya lembut jatuh di wajahnya. Lukisan itu bukan sekadar potret eksotik bagi mata Eropa. Ia simbol dari perjumpaan dua dunia: Islam yang datang dari Mekah, dan Jawa yang tengah menata jati dirinya.
Michael Laffan, dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. 2015), menulis bahwa momen-momen seperti itulah yang menandai “penerimaan sebuah ajaran baru” di Nusantara pada rentang 1750–1800. Bukan ledakan ideologi, melainkan percakapan panjang antara iman dan budaya, antara kitab dan cerita rakyat.
Dibandingkan Aceh, Banten, atau Mataram — tiga kerajaan yang lebih banyak meninggalkan catatan sejarah Islam — kawasan timur Nusantara seperti Makassar dan Lombok menyimpan kisah yang lebih kabur. Laffan menyebut, “Kita hanya mengetahui sedikit hal mengenai perdebatan di negara-negara Muslim yang kerap berperang di bagian timur Nusantara.”
Namun, justru di sana, legenda-legenda tumbuh subur. Salah satu kisah dari Makassar menceritakan seorang ratu Aceh yang dengan diplomasi lembut membujuk raja setempat agar memeluk Islam ala Mekah. Mungkin dongeng, tapi sebagaimana dicatat Laffan, mitos semacam itu menjadi penanda jalur penyebaran Islam: melalui cerita, bukan perang; melalui simbol, bukan kekuasaan.
Di tangan masyarakat, Islam diterjemahkan menjadi bahasa lokal. Wali dan nabi melebur dalam satu bingkai ikonografi. Sketsa yang dikirimkan Muhammad Yasin dari Kelayu (Lombok) kepada Snouck Hurgronje pada abad ke-19 memperlihatkan sosok berjanggut memegang tombak, membawa tas berisi kitab suci — lebih mirip darwis Sufi daripada ulama formal. “Sosok semacam ini,” tulis Laffan, “melambangkan wali pesisir: utusan suci, pembuat undang-undang, sekaligus kesatria.”
Sufisme dan Jejak Naskah yang Hilang
Pertanyaan besar muncul: ajaran seperti apa yang dibawa para pendakwah awal itu? Dan di mana posisi tarekat dalam penyebaran Islam awal di Nusantara?
Michael Laffan, dalam The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. 2015), menulis bahwa momen-momen seperti itulah yang menandai “penerimaan sebuah ajaran baru” di Nusantara pada rentang 1750–1800. Bukan ledakan ideologi, melainkan percakapan panjang antara iman dan budaya, antara kitab dan cerita rakyat.
Dibandingkan Aceh, Banten, atau Mataram — tiga kerajaan yang lebih banyak meninggalkan catatan sejarah Islam — kawasan timur Nusantara seperti Makassar dan Lombok menyimpan kisah yang lebih kabur. Laffan menyebut, “Kita hanya mengetahui sedikit hal mengenai perdebatan di negara-negara Muslim yang kerap berperang di bagian timur Nusantara.”
Namun, justru di sana, legenda-legenda tumbuh subur. Salah satu kisah dari Makassar menceritakan seorang ratu Aceh yang dengan diplomasi lembut membujuk raja setempat agar memeluk Islam ala Mekah. Mungkin dongeng, tapi sebagaimana dicatat Laffan, mitos semacam itu menjadi penanda jalur penyebaran Islam: melalui cerita, bukan perang; melalui simbol, bukan kekuasaan.
Di tangan masyarakat, Islam diterjemahkan menjadi bahasa lokal. Wali dan nabi melebur dalam satu bingkai ikonografi. Sketsa yang dikirimkan Muhammad Yasin dari Kelayu (Lombok) kepada Snouck Hurgronje pada abad ke-19 memperlihatkan sosok berjanggut memegang tombak, membawa tas berisi kitab suci — lebih mirip darwis Sufi daripada ulama formal. “Sosok semacam ini,” tulis Laffan, “melambangkan wali pesisir: utusan suci, pembuat undang-undang, sekaligus kesatria.”
Sufisme dan Jejak Naskah yang Hilang
Pertanyaan besar muncul: ajaran seperti apa yang dibawa para pendakwah awal itu? Dan di mana posisi tarekat dalam penyebaran Islam awal di Nusantara?