Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home masjid detail berita

Menemukan Islam: Ketika Ajaran Baru Menyapa Nusantara

miftah yusufpati Selasa, 07 Oktober 2025 - 17:00 WIB
Menemukan Islam: Ketika Ajaran Baru Menyapa Nusantara
Islam Indonesia bukanlah produk pasif dari Mekah, tapi hasil penerimaan aktif oleh masyarakat yang sudah memiliki bahasa, seni, dan spiritualitas sendiri. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Batavia, Abad ke-18. Seorang pria Mesir berdiri di pelabuhan, mengenakan jubah panjang dan serban yang tidak sepenuhnya Arab. Mansur al-Misri, begitu ia dikenal, diminta oleh beberapa pelukis Belanda di Batavia untuk berpose: memegang kitab suci, berdiri tegak seperti seorang nabi, dengan cahaya lembut jatuh di wajahnya. Lukisan itu bukan sekadar potret eksotik bagi mata Eropa. Ia simbol dari perjumpaan dua dunia: Islam yang datang dari Mekah, dan Jawa yang tengah menata jati dirinya.

Michael Laffan, dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011; terj. 2015), menulis bahwa momen-momen seperti itulah yang menandai “penerimaan sebuah ajaran baru” di Nusantara pada rentang 1750–1800. Bukan ledakan ideologi, melainkan percakapan panjang antara iman dan budaya, antara kitab dan cerita rakyat.

Dibandingkan Aceh, Banten, atau Mataram — tiga kerajaan yang lebih banyak meninggalkan catatan sejarah Islam — kawasan timur Nusantara seperti Makassar dan Lombok menyimpan kisah yang lebih kabur. Laffan menyebut, “Kita hanya mengetahui sedikit hal mengenai perdebatan di negara-negara Muslim yang kerap berperang di bagian timur Nusantara.”

Namun, justru di sana, legenda-legenda tumbuh subur. Salah satu kisah dari Makassar menceritakan seorang ratu Aceh yang dengan diplomasi lembut membujuk raja setempat agar memeluk Islam ala Mekah. Mungkin dongeng, tapi sebagaimana dicatat Laffan, mitos semacam itu menjadi penanda jalur penyebaran Islam: melalui cerita, bukan perang; melalui simbol, bukan kekuasaan.

Di tangan masyarakat, Islam diterjemahkan menjadi bahasa lokal. Wali dan nabi melebur dalam satu bingkai ikonografi. Sketsa yang dikirimkan Muhammad Yasin dari Kelayu (Lombok) kepada Snouck Hurgronje pada abad ke-19 memperlihatkan sosok berjanggut memegang tombak, membawa tas berisi kitab suci — lebih mirip darwis Sufi daripada ulama formal. “Sosok semacam ini,” tulis Laffan, “melambangkan wali pesisir: utusan suci, pembuat undang-undang, sekaligus kesatria.”

Sufisme dan Jejak Naskah yang Hilang

Pertanyaan besar muncul: ajaran seperti apa yang dibawa para pendakwah awal itu? Dan di mana posisi tarekat dalam penyebaran Islam awal di Nusantara?

A.H. Johns, cendekiawan terkemuka dalam studi Islam Asia Tenggara, pernah menganggap bahwa menjadi Muslim sama artinya dengan menjadi anggota tarekat. Namun, menurut Laffan, pandangan itu kini dilihat terlalu sederhana. Tak semua tokoh penyebar Islam awal — seperti Malik Ibrahim atau Syekh Bari — menyinggung praktik tarekat dalam ajarannya. “Ajaran mereka sarat dengan spekulasi mistis, tapi tidak secara eksplisit merujuk pada tarekat tertentu,” tulis Laffan.

Artinya, Islam awal di Nusantara mungkin tumbuh bukan dari tarekat formal, melainkan dari etos sufistik yang cair — lebih berupa sikap spiritual ketimbang struktur organisasi. Para wali yang datang membawa Al-Quran dan naskah-naskah kecil, mungkin kisah, mungkin tafsir, yang kini hilang dari catatan sejarah.

Seni, Simbol, dan Penyebaran Iman

Menariknya, perjumpaan antara Islam dan budaya lokal kerap terjadi melalui seni. Para seniman Jawa abad ke-18 menggambarkan para nabi dan wali dengan gaya yang sama: berjubah, memegang kitab, berdiri tegak seperti tokoh pewayangan. “Dalam naskah Jawa awal abad kesembilan belas,” tulis Laffan, “garis antara wali dan nabi begitu samar.”

Visualisasi semacam itu bukan sekadar estetika. Ia mencerminkan penerimaan spiritual yang lentur. Wali disakralkan, tapi tidak dipisahkan dari masyarakat. Nabi dipahami bukan hanya sebagai figur wahyu, melainkan juga teladan moral yang bisa diserap dalam kebudayaan lokal.

Pada akhirnya, Islam Nusantara terbentuk bukan di medan perang, melainkan di panggung budaya: dalam cerita lisan, dalam lukisan, dalam ritual harian yang pelan-pelan mengubah cara orang memahami Tuhan. Laffan melihat periode 1750–1800 sebagai masa “penyatuan antara ajaran dan imajinasi”. Masa ketika Islam tidak sekadar datang, tapi diterjemahkan, dinegosiasikan, dan dihidupi.

Dari pelabuhan Batavia hingga pedesaan Lombok, dari istana Aceh hingga pesisir Jawa, Islam menjelma sebagai dialog — bukan dogma.

Kini, tiga abad setelah itu, pertanyaan yang sama masih menggema: sejauh mana Islam di Nusantara masih menampung roh keterbukaan dan kebudayaan yang dulu menyambutnya?

Laffan menutup penelitiannya dengan satu kesimpulan lembut: “Islam Indonesia bukanlah produk pasif dari Mekah, tapi hasil penerimaan aktif oleh masyarakat yang sudah memiliki bahasa, seni, dan spiritualitas sendiri.”

Mungkin di situlah makna terdalam dari “menerima ajaran baru” — bukan mengganti yang lama, melainkan menenun yang datang dengan yang sudah ada, menjadi kain panjang bernama kebudayaan.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ اِنَّ الْمَوْتَ الَّذِيْ تَفِرُّوْنَ مِنْهُ فَاِنَّهٗ مُلٰقِيْكُمْ ثُمَّ تُرَدُّوْنَ اِلٰى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
Katakanlah, “Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
QS. Al-Jumu'ah:8 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)