home masjid

Ketika Islam Nusantara Berguncang: Dari Syattari ke Padri

Kamis, 09 Oktober 2025 - 05:00 WIB
Dari bara perang di dataran tinggi Minangkabau, lahir semangat reformasi Islam yang mengguncang Nusantara. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Di awal abad ke-19, di lereng-lereng bukit Sumatra Barat, api reformasi mulai menyala. Para Tuanku muda di dataran tinggi Minangkabau memproklamasikan diri sebagai kaum putihan—golongan yang mengklaim kesucian dan kemurnian ajaran Islam. Dari Mekah, gema Wahhabisme tiba bersama rombongan haji Jawi. Di tanah air, benih-benih itu bersemi dalam bentuk yang jauh lebih kompleks: gerakan Padri.

Michael Laffan, dalam karyanya The Makings of Indonesian Islam(Princeton University Press, 2011; terj. Mizan, 2015), menggambarkan masa ini sebagai periode “reformasi dan meluasnya ruang muslim” di Nusantara. “Para cendekiawan Jawi,” tulisnya, “menjalin hubungan dengan wacana Mekah yang tengah bangkit, yang menegaskan kembali norma-norma Ghazalian—memisahkan hukum dari mistisisme.”

Bagi sebagian kalangan, wacana baru itu adalah peluang untuk menertibkan agama dari pengaruh tradisi lokal yang dianggap “menyimpang”. Namun, bagi yang lain, itu adalah ancaman bagi Islam yang telah lama berpadu dengan kebudayaan Nusantara.

Laffan menelusuri bagaimana badai Wahhabisme yang melanda Jazirah Arab pada akhir abad ke-18 mengguncang dunia Islam, termasuk kepulauan ini. Ahmad bin Zayni Dahlan (1816–1886), ulama Mekah, menulis dengan getir tentang “dua malapetaka besar”: invasi Prancis ke Mesir (1798) dan munculnya gerakan Wahhabi di Najd.

Gerakan itu menyerang praktik ziarah, tawassul, hingga bacaan Dalā’il al-Khayrāt, kitab doa populer karya al-Jazuli. Mekah dan Madinah jatuh ke tangan pasukan Wahhabi pada 1806; makam-makam wali dihancurkan, kafilah haji dihalangi.

Berita kekerasan itu menyebar ke Nusantara. Namun alih-alih gentar, sebagian jamaah Jawi justru terinspirasi. Di Sumatra Barat, sekelompok ulama dan haji muda yang baru pulang dari Hijaz mengusung semangat serupa: pemurnian akidah, penghapusan adat, dan pelarangan alkohol, judi, serta pewarisan matrilineal.

Mereka dikenal sebagai kaum Padri.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya