home masjid

Ukhuwwah dan Mahabbah: Cinta sebagai Jalan Iman

Kamis, 09 Oktober 2025 - 16:00 WIB
Rasulullah SAW bersabda: iman belum sempurna tanpa cinta kepada sesama. Yusuf Qardhawi menjadikannya fondasi sosial Islam: membersihkan hati, menegakkan persaudaraan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- “Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu,” sabda Nabi Muhammad SAW, “hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

Di tengah zaman yang riuh oleh ujaran kebencian dan politik yang memecah, hadis itu terasa seperti napas yang menenangkan. Kata mahabbah — cinta, kasih, atau kelembutan hati — tampak asing di ruang publik kita hari ini. Padahal, sebagaimana diurai oleh ulama besar kontemporer Syaikh Yusuf Qardhawi dalam bukunya Sistem Masyarakat Islam dalam Al-Qur’an & Sunnah (Malaamihu Al-Mujtama‘ Al-Muslim Alladzi Nasyuduh, 1997, Citra Islami Press), mahabbah justru menjadi fondasi utama kehidupan sosial Islam.

Al-Qardhawi menyebut mahabbah sebagai salah satu unsur pokok dari ukhuwwah Islamiyyah — persaudaraan dalam iman. Cinta yang dimaksud bukan sekadar emosi, melainkan kesadaran spiritual yang menuntut pembersihan hati dari hasad (iri), ghill (benci), dan dengki.

Tingkat paling rendah dari mahabbah, tulis Qardhawi, adalah salamatush shadr — bersihnya dada dari kebencian dan dendam. Ia bukan sikap pasif, melainkan bentuk kematangan iman: kemampuan menahan diri dari keinginan merendahkan orang lain.

“Permusuhan dan kebencian,” kutip Qardhawi dari Al-Qur’an surat Al-Maidah ayat 14, “adalah bentuk siksaan yang ditimpakan Allah kepada kaum yang melupakan perjanjian-Nya.” Dalam tafsir ini, kebencian sosial bukan hanya penyakit moral, melainkan konsekuensi spiritual dari kelupaan terhadap Tuhan.

Baca juga: Perang Besar di Medan Pikiran: Membaca Ulang Gagasan Yusuf al-Qardhawi

Ketika Setan Menjual Dagangan dengan Laris
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya