home masjid

Rezim Pengetahuan Baru: Ketika Islam Nusantara Jadi Objek Kolonial

Kamis, 16 Oktober 2025 - 17:10 WIB
Dari jalan raya Daendels hingga rak-rak Leiden, naskah Islam Nusantara berpindah tangan di bawah bayang kolonialisme. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Pada awal abad ke-19, Universitas Leiden menjadi gudang naskah Islam terbesar di Eropa. Namun, sejarah bagaimana koleksi itu tiba di sana bukan kisah akademik yang tenang, melainkan jejak kolonialisme yang dibungkus ambisi pengetahuan.

Sejarawan Michael Laffan mencatat bahwa upaya Belanda memahami Islam dan kebudayaan lokal Nusantara berjalan tersendat. Hal ini baru menggeliat setelah Inggris sempat mengambil alih Jawa pada 1811–1816. Sejak itu, “pengetahuan tentang Timur” menjadi arena perebutan antara dua kekuatan kolonial: Belanda dan Inggris.

Di bawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels, Belanda membangun Jalan Raya Pos membentang dari Anyer hingga Panarukan. Tapi lebih dari itu, Daendels memerintahkan penyusunan inventaris penduduk dan pendidikan Jawa. Tujuannya: mengenali dan mengendalikan. Kolonialisme, tulis Laffan, “bukan hanya urusan senjata dan pajak, melainkan juga tentang siapa yang berhak menulis dan menafsirkan pengetahuan.”

Perang Eropa dan peralihan kekuasaan membuat arsip dan manuskrip berpindah tangan. Ketika Thomas Stamford Raffles dan surveyor Kolonel Colin Mackenzie mendarat di Jawa, mereka menjarah perpustakaan-perpustakaan istana demi melengkapi koleksi “ilmiah” Inggris. Sebagian naskah itu kelak terbakar bersama kapal Fame pada 1824, sebagian lain selamat dan kini tersimpan di London.

Di waktu yang sama, sisa koleksi Islam dari perpustakaan Palembang dikirim ke Batavia—membentuk cikal bakal “pengetahuan kolonial” tentang Islam Nusantara.

Marsden dan Islam yang Dianggap Asing

Jauh sebelum Raffles, seorang pegawai Inggris di Bengkulu, William Marsden, telah menulis History of Sumatra(1783). Ia heran pada minimnya minat Belanda terhadap sejarah daerah jajahan, lalu menuduh mereka “terlalu sibuk berdagang untuk berpikir secara liberal”.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya