home masjid

Umar bin Khattab: Dari Padang Jahiliah ke Panggung Peradaban

Senin, 27 Oktober 2025 - 05:45 WIB
Dari keluarga Quraisy yang keras dan terhormat, Umar bin Khattab tumbuh di padang tandus Makkah menjadi negarawan besar Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di gurun Makkah yang tandus, sejarah besar kerap lahir dari ketegangan. Begitu pula kisah Umar bin Khattab — lelaki yang kelak menjadi salah satu khalifah paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Namun sebelum gelar Al-Faruqdisematkan padanya — sang pembeda antara kebenaran dan kebatilan — Umar adalah anak dari seorang kepala suku yang keras, pemberani, dan terhormat: Khattab bin Nufail.

Dalam Al-Faruq Umar, sejarawan Mesir Muhammad Husain Haekal menulis bahwa Khattab “dihormati masyarakat Quraisy karena keberanian dan kecerdasannya.” Ia memimpin Banu Adi, satu kabilah kecil di tengah hegemoni suku Quraisy, yang ikut serta dalam Perang Fijar — perang antar-suku yang membentuk watak keras masyarakat Arab pra-Islam.

Haekal mencatat, “Dengan tangkas dan tabah ia memimpin Banu Adi dalam pertempuran.” Dari garis ayah itulah Umar mewarisi darah pejuang, keteguhan, dan watak kepemimpinan yang kelak menjadi ciri pemerintahannya.

Namun di masa kecil Umar, keyakinan monoteistik belum dikenal luas. Mekkah saat itu adalah panggung politeisme, dengan berhala yang disembah di sekitar Ka'bah. Zaid bin Amr bin Nufail — kerabat dekat keluarga Khattab — menjadi satu dari sedikit orang yang menolak penyembahan berhala. Ia dikenal sebagai hanif, penganut agama Ibrahim yang menolak paganisme Quraisy.

Haekal menggambarkan konfrontasi antara Khattab dan Zaid ini sebagai simbol pertarungan dua zaman: jahiliah yang keras melawan nur iman yang mulai tumbuh. Ketika Zaid menolak menyembelih hewan kurban untuk berhala, Khattab — dengan dorongan adat dan gengsi suku — mengusirnya dari Makkah. Dari keluarga yang sama, dua arus keyakinan lahir: yang satu mempertahankan tradisi lama, yang lain mencari kebenaran baru.

Lahir di Tengah Keangkuhan Quraisy

Umar lahir dari rahim Hantamah binti Hasyim bin al-Mughirah, perempuan Banu Makhzum — klan terpandang yang juga melahirkan Khalid bin Walid, sang panglima legendaris. Hantamah dikenal cerdas dan kuat. “Ia perempuan yang paling dekat di hati suaminya,” tulis Haekal.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya