Fadli Zon Puji Perfilman Indonesia di Anugerah LSF 2025: “Ekosistem Kita Luar Biasa”
Tim langit 7
Senin, 10 November 2025 - 08:58 WIB
Fadli Zon Puji Perfilman Indonesia di Anugerah LSF 2025: Ekosistem Kita Luar Biasa
LANGIT7.ID–Jakarta;Kementerian Kebudayaan melalui Lembaga Sensor Film mempersembahkan ajang apresiasi dan penghargaan Anugerah Lembaga Sensor Film (LSF) tahun 2025 bertajuk Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia. Digelar di Studio 5 Emtek City, Jakarta, serta disiarkan langsung dari Indosiar dan Vidio, penghargaan ini tidak hanya menekankan kualitas cerita dan teknis yang baik, tetapi juga membawa pesan positif sesuai norma bangsa dan kategorisasi usia.
Anugerah LSF 2025 yang memadukan unsur edukasi, hiburan, dan budaya ini dibuka dengan penampilan memukau dari Lesti Kejora bersama 16 akademia Dangdut Academy 7. Penampilan ini menyuguhkan keragaman Nusantara lewat medley lagu daerah yang dinyanyikan penuh harmoni. Mulai dari Dindin Badindin dari Sumatera Barat, Paris Barantai dari Kalimantan Selatan, Si Patokaan dari Sulawesi Utara, Cublak Cublak Suweng dari Jawa Tengah, Yamko Rambe Yamko dari Papua, hingga Gemu Famire dari Nusa Tenggara Timur.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Ramzi, Rina Nose, dan Astrid Tiar, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan unsur yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan. Untuk itu, jiwa bangga pada budaya Indonesia harus ditanamkan sebagai kekayaan dari keragaman nusantara.
Lebih jauh, Menteri Fadli juga memberikan apresiasi terhadap seluruh insan perfilman Indonesia yang telah berpartisipasi aktif dalam pemajuan ekosistem kebudayaan nasional. Ia berharap ekosistem sineas Indonesia dapat menjadi etalase budaya yang dapat mengenalkan budaya Indonesia pada kancah global.
“Ekosistem film kita relatif sangat baik. Produksi film lancar, penonton luar biasa, bioskop dipenuhi, dan banyak film berprestasi di festival internasional. Kami ingin film Indonesia semakin berkualitas, membawa cerita yang mencerminkan peradaban dan nilai-nilai kita, serta semakin dikenal dan diapresiasi,” terang Menbud Fadli dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).
Kepada seluruh hadirin, Menteri Fadli turut menekankan pentingnya Budaya Sensor Mandiri, baik untuk penonton maupun pembuat film. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan indeks kualitas literasi penonton, sekaligus menjaga nilai-nilai luhur di era media saat ini.
“Sensor diperlukan terhadap hal-hal yang melawan hukum dan sejenisnya. Kita ingin film dan produk budaya kita tetap berada di jalur nilai-nilai kita. Silakan berkarya, dengan mengacu pada koridor hukum dan nilai-nilai Indonesia,” tutur Menteri Kebudayaan.
Anugerah LSF 2025 yang memadukan unsur edukasi, hiburan, dan budaya ini dibuka dengan penampilan memukau dari Lesti Kejora bersama 16 akademia Dangdut Academy 7. Penampilan ini menyuguhkan keragaman Nusantara lewat medley lagu daerah yang dinyanyikan penuh harmoni. Mulai dari Dindin Badindin dari Sumatera Barat, Paris Barantai dari Kalimantan Selatan, Si Patokaan dari Sulawesi Utara, Cublak Cublak Suweng dari Jawa Tengah, Yamko Rambe Yamko dari Papua, hingga Gemu Famire dari Nusa Tenggara Timur.
Dalam diskusi yang dipandu oleh Ramzi, Rina Nose, dan Astrid Tiar, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menjelaskan bahwa kebudayaan merupakan unsur yang tidak bisa terpisahkan dari kehidupan. Untuk itu, jiwa bangga pada budaya Indonesia harus ditanamkan sebagai kekayaan dari keragaman nusantara.
Lebih jauh, Menteri Fadli juga memberikan apresiasi terhadap seluruh insan perfilman Indonesia yang telah berpartisipasi aktif dalam pemajuan ekosistem kebudayaan nasional. Ia berharap ekosistem sineas Indonesia dapat menjadi etalase budaya yang dapat mengenalkan budaya Indonesia pada kancah global.
“Ekosistem film kita relatif sangat baik. Produksi film lancar, penonton luar biasa, bioskop dipenuhi, dan banyak film berprestasi di festival internasional. Kami ingin film Indonesia semakin berkualitas, membawa cerita yang mencerminkan peradaban dan nilai-nilai kita, serta semakin dikenal dan diapresiasi,” terang Menbud Fadli dalam keterangannya, Senin (10/11/2025).
Kepada seluruh hadirin, Menteri Fadli turut menekankan pentingnya Budaya Sensor Mandiri, baik untuk penonton maupun pembuat film. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan indeks kualitas literasi penonton, sekaligus menjaga nilai-nilai luhur di era media saat ini.
“Sensor diperlukan terhadap hal-hal yang melawan hukum dan sejenisnya. Kita ingin film dan produk budaya kita tetap berada di jalur nilai-nilai kita. Silakan berkarya, dengan mengacu pada koridor hukum dan nilai-nilai Indonesia,” tutur Menteri Kebudayaan.