home masjid

Para Sayyid, Snouck, dan Sekat Kolonial: Politik Islam di Persimpangan

Senin, 10 November 2025 - 15:30 WIB
Kolonialisme membelah arah Islam di Nusantara: Inggris merangkul elite lama, Belanda mendekati kaum pembaru. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Pada 1919, dua kekuatan kolonial memulai jalan berbeda dalam mengelola umat Islam di wilayah jajahan. Inggris memilih bersandar pada elite lama yang loyal. Belanda, sebaliknya, mulai mendekati kaum pembaru seperti Muhammadiyah dan Al-Irsyad.

Kebijakan ini, menurut Michael Laffan dalam Sejarah Islam di Nusantara (Mizan, 2015), menjadi pangkal dari “pengerasan dan perpisahan” — masa ketika Islam politik di Nusantara terbelah antara tradisional, modernis, dan kolonial.

Nama G.A.J. Hazeu, penasihat urusan pribumi yang menggantikan Snouck Hurgronje, menjadi simbol kegamangan itu. Bagi kaum konservatif Belanda seperti H.C. Zentgraaff, Hazeu dianggap “terlalu lembut terhadap kaum pribumi”. Namun, bagi nasionalis bumiputra, ia sekadar representasi kolonial yang lebih santun.

Hazeu mencoba memahami peristiwa-peristiwa berdarah seperti Cimareme dengan kacamata etis. Tapi sikap itu justru membuatnya dijatuhkan. “Kekerasan melawan kolonial tak dianggap tanda perlawanan, melainkan kesalahan administratif,” tulis Laffan sinis.

Ketika laporan Hazeu ditolak dan ia kembali ke Leiden sebagai profesor, berakhirlah masa singkat kebijakan kolonial yang mencoba memahami, bukan menaklukkan.

Al-Irsyad dan Perang Kelas Sayyid

Dalam waktu bersamaan, konflik lain bergolak di komunitas Arab Hadrami. Organisasi Al-Irsyad, yang dipelopori kaum non-sayyid, menantang dominasi sosial para bangsawan keturunan Nabi. Bagi banyak sayyid, reformasi Irsyad tak ubahnya “virus Wahhabi”.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya