Senja Merah di Laut Tengah: Ketika Islam sebagai Kekuatan Maritim
Miftah yusufpati
Sabtu, 22 November 2025 - 06:00 WIB
Dalam ingatan sejarah, gelombang Laut Tengah pernah memerah. Di sanalah keberanian politik Utsman diujidan warisan kejayaan maritim Islam bermula. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID – Laut adalah panggung kekuatan Bizantium. Selama berabad-abad musuh-musuhnya hanya mampu menyerang lewat darat. Tetapi di era Khalifah Utsman bin Affan, peta kekuatan berubah. Kaum Muslimin yang sebelumnya tak terbiasa mengarungi gelombang besar, kini tampil dengan keberanian yang menegaskan kehadiran baru mereka di Laut Tengah.
Muhammad Husain Haekal dalam Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan mengisahkan pertempuran dahsyat itu terjadi sekitar tahun 31 Hijriah menurut sebagian sumber, atau 34 Hijriah menurut yang lain. Bizantium mengutus Konstantin, putra Kaisar Heraklius, dengan 500–600 kapal menuju Iskandariah untuk menghancurkan armada Muslim.
Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, gubernur Mesir, memimpin sekitar 200 kapal dari Iskandariah dan Afrika. Mayoritas pasukan adalah para pejuang darat yang tangkas, kini bertarung di medan baru.
---
Malam menjelang pertempuran, laut gelap hanya diterangi lantunan ritual dua pasukan: Bizantium membunyikan lonceng; Muslimin menegakkan salat dan membaca Al-Qur’an. Di pagi hari, dua armada bergerak mendekat dengan gelombang angin yang menguji keberanian.
Ketika Bizantium menolak bertempur di darat, Muslimin menerjang di laut. Kapal-kapal saling menubruk, para prajurit melompat dengan pedang terhunus, menebas dalam jarak nyaris tanpa ruang. Riwayat kuno menyebut pantai tempat gelombang memukul menjadi seperti bukit mayat, darah mengalahkan warna air.
Para sejarawan menandai pertempuran ini sebagai Dzat al-Sawari (Pertempuran Tiang-Tiang Kapal), kemenangan pertama Muslimin atas Bizantium di laut. Konon Konstantin terluka parah dan mundur bersama sisa-sisa pasukannya, terkejut melihat ketangguhan armada yang baru lahir itu.
Muhammad Husain Haekal dalam Usman bin Affan: Antara Kekhalifahan dan Kerajaan mengisahkan pertempuran dahsyat itu terjadi sekitar tahun 31 Hijriah menurut sebagian sumber, atau 34 Hijriah menurut yang lain. Bizantium mengutus Konstantin, putra Kaisar Heraklius, dengan 500–600 kapal menuju Iskandariah untuk menghancurkan armada Muslim.
Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, gubernur Mesir, memimpin sekitar 200 kapal dari Iskandariah dan Afrika. Mayoritas pasukan adalah para pejuang darat yang tangkas, kini bertarung di medan baru.
---
Malam menjelang pertempuran, laut gelap hanya diterangi lantunan ritual dua pasukan: Bizantium membunyikan lonceng; Muslimin menegakkan salat dan membaca Al-Qur’an. Di pagi hari, dua armada bergerak mendekat dengan gelombang angin yang menguji keberanian.
Ketika Bizantium menolak bertempur di darat, Muslimin menerjang di laut. Kapal-kapal saling menubruk, para prajurit melompat dengan pedang terhunus, menebas dalam jarak nyaris tanpa ruang. Riwayat kuno menyebut pantai tempat gelombang memukul menjadi seperti bukit mayat, darah mengalahkan warna air.
Para sejarawan menandai pertempuran ini sebagai Dzat al-Sawari (Pertempuran Tiang-Tiang Kapal), kemenangan pertama Muslimin atas Bizantium di laut. Konon Konstantin terluka parah dan mundur bersama sisa-sisa pasukannya, terkejut melihat ketangguhan armada yang baru lahir itu.