Kisah Qarun dalam Al-Qur’an: Mengapa Allah Menghukumnya?
Miftah yusufpati
Ahad, 23 November 2025 - 05:45 WIB
Qarun tenggelam bukan karena hartanya, melainkan cara ia memaknai nikmat. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Qarun muncul di Al-Qur’an sebagai simbol kecemerlangan ekonomi yang berbalut keangkuhan. Dalam Surah Al-Qashash [28], ia digambarkan memiliki harta yang kuncinya saja harus dipikul beberapa orang kuat. Namun kisahnya berakhir tragis: ia ditelan bumi bersama seluruh kekayaannya.
Menurut mufasir, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, awal kejatuhan Qarun bermula bukan dari jumlah harta, melainkan dari siapa yang ia yakini sebagai sumbernya. Saat kaumnya menasihati agar ia tidak sombong, Qarun menjawab: Aku diberi itu semua karena ilmu yang ada padaku (QS Al-Qashash [28]: 78). Ia menisbatkan kesuksesan pada dirinya sendiri.
Sebagian riwayat klasik, seperti karya Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, menyebut Qarun masih punya hubungan keluarga dengan Nabi Musa. Ia dulunya dikenal ahli ibadah dan penghafal Taurat, kemudian berubah seiring bertambahnya kekayaan.
Quraish Shihab menjelaskan, kesombongan Qarun tampak dalam tiga bentuk:
1. Menolak nasihat publik dan menganggap dirinya lebih tahu.
2. Mengeksploitasi masyarakat melalui rente dan ketimpangan akses pada harta.
3. Menjadikan kekayaan sebagai identitas superioritas sosial.
Menurut mufasir, Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, awal kejatuhan Qarun bermula bukan dari jumlah harta, melainkan dari siapa yang ia yakini sebagai sumbernya. Saat kaumnya menasihati agar ia tidak sombong, Qarun menjawab: Aku diberi itu semua karena ilmu yang ada padaku (QS Al-Qashash [28]: 78). Ia menisbatkan kesuksesan pada dirinya sendiri.
Sebagian riwayat klasik, seperti karya Ibn Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah, menyebut Qarun masih punya hubungan keluarga dengan Nabi Musa. Ia dulunya dikenal ahli ibadah dan penghafal Taurat, kemudian berubah seiring bertambahnya kekayaan.
Quraish Shihab menjelaskan, kesombongan Qarun tampak dalam tiga bentuk:
1. Menolak nasihat publik dan menganggap dirinya lebih tahu.
2. Mengeksploitasi masyarakat melalui rente dan ketimpangan akses pada harta.
3. Menjadikan kekayaan sebagai identitas superioritas sosial.