Fenomena Qarun Effect: Gejala Psikologis yang Telah Dikisahkan Al-Qur’an
Miftah yusufpati
Senin, 24 November 2025 - 04:14 WIB
Para ilmuwan menyebutnya Qarun effect, sebuah gejala psikologis yang telah dikisahkan Al-Quran sejak ribuan tahun lalu. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID- Nama Qarun sudah lama menjadi metafora bagi orang kaya yang pongah. Al-Qur’an menggambarkan ia menisbatkan kesuksesan semata-mata kepada dirinya. Aku diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku, katanya dalam QS Al-Qashash [28]: 78. Kesombongan itulah yang akhirnya menyeretnya ke tragedi: ditelan bumi bersama harta yang disanjungnya.
Kini, para ilmuwan perilaku menemukan fenomena serupa: semakin tinggi kekayaan seseorang, semakin berkurang rasa empati dan kedermawanannya. Paul K. Piff, psikolog dari University of California Berkeley, meneliti hubungan antara status sosial dan perilaku etis.
Hasilnya mengejutkan: individu berpenghasilan tinggi lebih cenderung melanggar aturan, seperti berhenti di zebra cross atau berlaku curang dalam permainan. Dalam salah satu studi, peserta eksperimen yang diberi perasaan kaya bahkan menunjukkan kecenderungan mengambil lebih banyak permen milik anak-anak. Riset ini dipublikasikan dalam jurnal PNAS tahun 2012.
Para peneliti menyebut fenomena itu self-serving bias: kecenderungan mempercayai bahwa kesuksesan diraih hanya karena kerja keras pribadi, dan melupakan peran keberuntungan, jejaring sosial, atau dukungan sistem. Qarun effect, meminjam istilah yang berkembang di kajian agama dan perilaku, menunjukkan bagaimana rasa memiliki yang berlebihan dapat mengikis kepekaan moral.
Pemikiran serupa muncul dalam kajian Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan). Ia menekankan bahwa kesombongan Qarun bukan karena jumlah kekayaannya, tetapi karena memutus hubungan antara nikmat dan Sang Pemberi nikmat. Qarun lupa bahwa harta adalah amanah untuk memperluas kesejahteraan, bukan memupuk superioritas.
Ekonom Thomas Piketty dalam Capital in the Twenty-First Century menjelaskan bahwa akumulasi kekayaan dapat melahirkan plutokrasi: kekuasaan ekonomi yang menentukan kebijakan publik. Ketika itu terjadi, kesenjangan tak hanya merusak keadilan, tapi juga struktur solidaritas sosial. Ia mengingatkan bahwa kekayaan tanpa distribusi adalah bara konflik.
Dalam kacamata tafsir, kisah Qarun bukan sekadar sejarah. Ia adalah peringatan sosial. Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, Al-Qur’an menampilkan masyarakat yang mengagumi kekayaan Qarun, lalu menyesal setelah melihat kehancurannya (QS Al-Qashash [28]: 79-82). Itu menunjukkan betapa masyarakat rentan memuja glamor materi dan lupa batas moral.
Kini, para ilmuwan perilaku menemukan fenomena serupa: semakin tinggi kekayaan seseorang, semakin berkurang rasa empati dan kedermawanannya. Paul K. Piff, psikolog dari University of California Berkeley, meneliti hubungan antara status sosial dan perilaku etis.
Hasilnya mengejutkan: individu berpenghasilan tinggi lebih cenderung melanggar aturan, seperti berhenti di zebra cross atau berlaku curang dalam permainan. Dalam salah satu studi, peserta eksperimen yang diberi perasaan kaya bahkan menunjukkan kecenderungan mengambil lebih banyak permen milik anak-anak. Riset ini dipublikasikan dalam jurnal PNAS tahun 2012.
Para peneliti menyebut fenomena itu self-serving bias: kecenderungan mempercayai bahwa kesuksesan diraih hanya karena kerja keras pribadi, dan melupakan peran keberuntungan, jejaring sosial, atau dukungan sistem. Qarun effect, meminjam istilah yang berkembang di kajian agama dan perilaku, menunjukkan bagaimana rasa memiliki yang berlebihan dapat mengikis kepekaan moral.
Pemikiran serupa muncul dalam kajian Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Qur’an (Mizan). Ia menekankan bahwa kesombongan Qarun bukan karena jumlah kekayaannya, tetapi karena memutus hubungan antara nikmat dan Sang Pemberi nikmat. Qarun lupa bahwa harta adalah amanah untuk memperluas kesejahteraan, bukan memupuk superioritas.
Ekonom Thomas Piketty dalam Capital in the Twenty-First Century menjelaskan bahwa akumulasi kekayaan dapat melahirkan plutokrasi: kekuasaan ekonomi yang menentukan kebijakan publik. Ketika itu terjadi, kesenjangan tak hanya merusak keadilan, tapi juga struktur solidaritas sosial. Ia mengingatkan bahwa kekayaan tanpa distribusi adalah bara konflik.
Dalam kacamata tafsir, kisah Qarun bukan sekadar sejarah. Ia adalah peringatan sosial. Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah, Al-Qur’an menampilkan masyarakat yang mengagumi kekayaan Qarun, lalu menyesal setelah melihat kehancurannya (QS Al-Qashash [28]: 79-82). Itu menunjukkan betapa masyarakat rentan memuja glamor materi dan lupa batas moral.